Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Mengulik Potensi Wisata Heritage di Bondowoso, Harus Tahu Target Pasar Wisatawannya Dulu, Begini Komentar Dosen Universitas Bina Nusantara

Radar Digital • Senin, 10 Februari 2025 | 19:20 WIB

 

REPLIKA: Kondisi Monumen Gerbong Maut di depan Kantor Pemkab Bondowoso yang merupakan replika. Sementara, gerbong yang asli kini masih berada di Museum Brawijaya, Malang.
REPLIKA: Kondisi Monumen Gerbong Maut di depan Kantor Pemkab Bondowoso yang merupakan replika. Sementara, gerbong yang asli kini masih berada di Museum Brawijaya, Malang.
 

JAWA Pos Radar Ijen juga mencoba mewawancarai salah satu akademisi pariwisata nasional, yakni Teguh Amor Patria, seorang dosen di universitas ternama di Jakarta. Tepatnya Dosen Program Studi Destinasi Pariwisata, Fakultas Digital Communication and Hotel and Tourism, Universitas Bina Nusantara di Jakarta.

Dia pun menjabarkan pengembangan wisata heritage berdasarkan ilmu kepariwisataan dan pengalaman aktualnya.

Menurutnya, Indonesia menyimpan banyak sekali warisan sejarah dan budaya yang bisa dikembangkan.

Wisata heritage pun tak melulu wujudnya bentuk bangunan kolonial. Namun, apa pun yang terkait dengan objek atau wisata budaya yang berusia lebih dari 50 tahun dan memiliki nilai manfaat tinggi. Semisal nilai pendidikan atau ekonomi.

“Tantangannya adalah untuk mengembangkan wisata heritage harus tahu target pasar kita siapa? Dengan kata lain, wisatawan. Karena wisatawan sebagai konsumen karakternya luas. Jadi harus ditentukan target pasarnya mau ke mana?,” ulasnya.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Amor itu menjelaskan, berdasarkan ilmu kepariwisataan, pemasaran wisatawan ada empat segmentasi. Pertama berdasarkan demografis, meliputi usia, kelamin, latar belakang pendidikan atau pekerjaan.

“Kedua, geografis. Di mana wisatawan itu tinggal dan seberapa jauh dia ke lokasi wisatanya. Sebab, dalam ilmu pariwisata, soal jarak itu salah satu hal yang penting. Ada anggapan semakin dekat antara asal wisatawan dengan destinasi itu semakin menarik,” jelas dia.

Ketiga adalah segmentasi psikografis terkait dengan karakter wisatawan. Amor mengatakan bahwa harus diketahui karakter wisatawan tersebut apakah suka tempat ramai atau sepi.

“Keempat, segmentasi perilaku terkait seberapa sering wisatawan itu berpergian selama sebulan atau setahun ke lokasi wisata. Apakah wisatawan ini suka pergi sendiri atau bersama keluarganya ataupun dengan kawannya,” beber dia.

Sebab, empat segmentasi itu jadi penentu pasar target ke depan bila berdasarkan ilmu pariwisata. “Bila sudah ada produk heritage-nya tinggal studi pasarnya. Dengan studi pasar itulah keluar segmentasi, baru ditentukan segmentasi mana yang akan dibidi,” jelasnya.

Baca Juga: Ini Faktanya Tragedi Gerbong Maut Bondowoso: Kisah Kelam 77 Tahun Lalu, Saat 46 Pejuang Indonesia Tewas Teraniaya

Meski begitu, Amor mengaku bahwa dirinya belum bisa menjawab lebih detail mengenai target pasar wisata di Bondowoso. Sebab, menurutnya, hal itu harus melalui sebuah studi.

Disinggung mengenai komentarnya soal Pemkab Bondowoso terkait faktor pengembangan wisata heritage, Amor menjawab dirinya tak bisa menduga-duga. Sebab, dia belum mengetahui studi soal poin-poin yang dijabarkan, serta orang Pemkab Bondowoso sendiri yang lebih paham mengenai hal tersebut.

“Tapi, kalau saya melihat pengalaman sebelumnya membantu pemda pengembangan wisata heritage, biasanya itu terkait dengan minat dari orang-orang pemda setempat bersama pemimpin daerahnya,” ungkapnya.

Dia pun menceritakan kisah pengalamannya ketika ke Sawahlunto, Sumatera Barat, tahun 2011 silam. Saat itu pemimpin daerahnya cukup memiliki minat besar soal heritage. Terlebih di sana potensinya juga mendukung. “Hal itu sesuai dengan visi misi pengembangan pariwisata di sana,” ucapnya.

“Kalau soal masalah aktualnya di (Bondowoso, Red) saya kurang paham. Saya menjawab berdasarkan pengalaman aktual saya,” katanya.

Lantas, ditanya bila wisata heritage di Bondowoso dipadukan dengan wisata nuansa alam lainnya, bagaimana? Sebab, Bondowoso salah satu kabupaten yang melimpah akan wisata alam unggulan. Sebut saja Kawah Ijen, Kalipait, Air Terjun Blawan, Pemandangan Arak-Arak, Air Terjun Tancak Kembar, Kawah Wurung, maupun Puncak Megasari.

“Sangat bisa, saya pikir itu ide yang bagus karena bervariasi. Semisal bisa dipadukan dengan wisata alam atau kuliner khas setempat. Kalau hanya heritage saja bisa membosankan. Bila dipadukan bisa jadi daya tarik tersendiri,” ucapnya.

Bahkan, saran Amor, bisa dibikin paket wisata. “Itu justru yang diinginkan kebanyakan pemda, bagaimana wisatawan tinggal lebih lama. Karena otomatis pengeluarannya lebih besar dan bisa membantu ekonomi warga sekitar dan PAD pemda,” pungkasnya. (c2/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#binus #Jakarta #wisata heritage #Bondowoso