CURAHDAMI, Radar Ijen - Selain TWA Kawah Ijen dan Gunung Raung, terdapat beberapa objek wisata pendakian di Bondowoso. Hanya saja, belum begitu dikenal. Pemerintah pun berencana menjadikan wisata pendakian sebegai wisata resmi. Bukan wisata pendakian yang ilegal. Hal ini demi kenyamanan wisatawan yang berkunjung.
Kepala Bidang Pariwisata, di Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Yuni Dwi Sri Handayani, mengatakan ke depan, wilayah barat Bondowoso akan dikembangkan sebagai kawasan wisata pendakian, termasuk jalur pendakian Gunung Saeng dan Gunung Piramid. "Kita masih beri pendampingan supaya tidak menjadi pendakian ilegal," tuturnya.
Meskipun pendakian di dua tempat tersebut saat ini sudah sangat aman. Yuni juga menyinggung skema kerja sama antara masyarakat dengan Perhutani dalam mengembangkan pariwisata pendakian. Seperti yang dilakukan pendakian Gunung Raung di Desa/Kecamatan Sumberwringin.
"Masyarakat setempat bisa ber-PKS (perjanjian kerja sama, Red) dengan Perhutani. Seperti Raung itu mungkin bisa jadi role model wisata yang memungkinkan ber-PKS dengan perhutani," imbuh Yuni.
Bukan tanpa alasan, Desa Sumberwringin yang memiliki tersebut terdapat situs Pohon Pelangi yang menjadi bagian dari kawasan Geopark yang masuk kurasi dari Bank Indonesia bisa jadi contoh terbaik. Namun, keberhasilan pengelolaannya bergantung pada komitmen pemerintah desa dan masyarakat. "Kolaboratif antara pemdes, bumdes, dan pokdarwis," imbuhnya.
Dia pun menyinggung pentingnya peran pokdarwis. Saat ini, terdapat 25 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang ada. "Hanya beberapa yang aktif," ucap Yuni. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah desa (pemdes), Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), dan Pokdarwis menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi wisata yang ada.
Belum lagi, baru-baru terdapat 40 pendamping pendakian gunung di Bondowoso yang disertifikasi. Sertifikasi ini merupakan upaya untuk memberikan kepercayaan dan keamanan kepada para wisatawan yang ingin menikmati wisata-wisata pendakian di Bondowoso. (hlb/bud)
Editor : M. Ainul Budi