Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Ternyata Kawah Ijen Bondowoso Pernah diteliti Turis Hingga Turun di Kawah Menggunakan Perahu Karet, Simak Ceritanya

Radar Digital • Jumat, 20 Desember 2024 | 22:35 WIB

 

KAWAH IJEN: Pintu masuk jalur pendakian Kawah Ijen. Pada pergantian tahun, pendakian ditutup. Dibuka lagi tanggal 4 Januari 2020.
KAWAH IJEN: Pintu masuk jalur pendakian Kawah Ijen. Pada pergantian tahun, pendakian ditutup. Dibuka lagi tanggal 4 Januari 2020.

Radar Jember – Kawah Ijen Bondowoso adalah salah satu destinasi wisata alam yang telah dikenal hingga ke mancanegara. Kawasan ini menjadi favorit wisatawan lokal maupun asing karena keindahan alamnya. Tak heran, Kawah Ijen selalu ramai pengunjung setiap harinya.

Fenomena api biru atau blue fire, Danau Asam Kawah Ijen, serta aktivitas para penambang belerang tradisional menjadi daya tarik utama yang memikat puluhan ribu wisatawan untuk mendaki gunung berapi di ujung timur Pulau Jawa ini.

Sejarah mencatat bahwa Kawah Ijen sudah dikenal bangsa Eropa sejak sekitar 250 tahun yang lalu. Pada tahun 1770, saat VOC menguasai Banyuwangi, mereka mendirikan Benteng Utrecht yang berjarak sekitar 48 kilometer dari Kawah Ijen. Kemudian, pada 1786, penambangan belerang di Kawah Ijen dimulai untuk bahan pembuatan mesiu (Bosch, 1858).

Kawah Ijen pun menjadi objek penelitian di berbagai bidang seperti geologi, vulkanologi, botani, hingga biologi flora dan fauna, mulai dari masa VOC, Perancis (1799), Inggris (1811), hingga kembali dikuasai Belanda (1816).

Meski terkenal dengan pemandangan indahnya, Kawah Ijen memiliki sejumlah fakta menarik yang jarang diketahui.

Kawah Ijen berada di puncak Gunung Ijen, yang terletak di Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi, dan Kecamatan Klobang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Gunung Ijen adalah gunung berapi aktif dengan ketinggian 2.443 mdpl, berdekatan dengan Gunung Raung dan Gunung Merapi. Pada Maret 2016, Gunung Ijen ditetapkan sebagai cagar biosfer oleh UNESCO. 

Wisatawan dapat mencapai Kawah Ijen melalui penerbangan ke Banyuwangi, Malang, atau Surabaya, kemudian melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum atau sewaan.

Kawah Ijen dikenal dunia internasional berkat Katia dan Maurice Krafft, pasangan ahli vulkanologi asal Perancis yang meneliti kawasan ini pada 1971 atas permintaan Pemerintah Indonesia dan UNESCO. Dalam penelitian mereka, pasangan ini bahkan mengarungi Danau Asam Kawah Ijen menggunakan perahu karet, meskipun airnya memiliki tingkat keasaman ekstrem dengan pH 0,5, setara dengan cairan aki mobil. Penelitian mereka kemudian dipublikasikan dalam buku À l'assaut des volcans, Islande, Indonésie pada 1975.

Kawah Ijen juga menjadi daya tarik bagi pejabat tinggi Indonesia. Pada 2 Maret 2018, rombongan Menteri RI seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengunjungi lokasi ini bersama Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Blue fire, atau semburan api biru, adalah salah satu daya tarik utama Kawah Ijen. Fenomena ini hanya bisa ditemukan di dua tempat di dunia, yaitu di Kawah Ijen dan Islandia. Untuk menyaksikannya, wisatawan harus mendaki ke kawah pada dini hari, karena blue fire hanya terlihat sekitar pukul 02.00-03.00 WIB.

Selain blue fire, Kawah Ijen juga menyuguhkan panorama matahari terbit yang menakjubkan. Dari puncaknya, wisatawan dapat menikmati pemandangan gunung-gunung lain, seperti Gunung Raung, Gunung Suket, dan Gunung Rante.

Dengan segala keindahan dan keunikannya, Kawah Ijen menjadi destinasi yang tidak hanya memikat wisatawan, tetapi juga menjadi objek penelitian dan eksplorasi berbagai disiplin ilmu. (ving)

Editor : Radar Digital
#Kawah Ijen #Bondowoso