Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sejarah Penelitian Wisata Kawah Ijen Bondowoso, Hasilkan Berbagai Informasi dari Kawah Asam Sulfatnya

Radar Digital • Jumat, 20 Desember 2024 | 01:25 WIB
EKSOTIS: Pengunjung destinasi wisata Kawah Ijen sedang menikmati keindahan yang tersaji.
EKSOTIS: Pengunjung destinasi wisata Kawah Ijen sedang menikmati keindahan yang tersaji.

Radar Jember – Kawah Ijen di Bondowoso telah menjadi destinasi wisata kelas dunia. Fenomena blue fire, danau asam Kawah Ijen, serta aktivitas para penambang belerang terus menarik puluhan ribu wisatawan mancanegara setiap tahunnya untuk mendaki gunung berapi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini.

Mayoritas wisatawan, terutama wisatawan lokal, sering kali hanya mengapresiasi Kawah Ijen dari sisi keindahan panorama dan keunikan alamnya.

Namun, penelitian ilmiah populer tentang Kawah Ijen di Bondowoso telah memikat turis asing untuk menyaksikan fenomena vulkanologi yang unik dan langka, yang jarang ditemukan di bagian lain dunia.

Salah seorang pasangan turis asal Prancis bernama Maurice Krafft dan istrinya, Katia. Pasangan ini merupakan ahli vulkanologi dan geologi asal Perancis yang melakukan penelitian di Kawah Ijen pada tahun 1971.

Penelitian mereka dilakukan atas permintaan Pemerintah Indonesia dan di bawah naungan UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization).

Sejak 13 Mei hingga 21 Desember 1971, pasangan ini mempelajari gunung-gunung berapi di Nusantara, termasuk Kawah Ijen.

Dalam penelitian mereka di Kawah Ijen, Maurice dan Katia melakukan eksperimen ekstrem dengan mendayung perahu karet di atas danau asam sulfat Kawah Ijen, meski risiko yang dihadapi sangat besar.

Air di danau tersebut memiliki tingkat keasaman mendekati nol, yang cukup kuat untuk melarutkan kulit dan daging manusia dalam waktu singkat.

Maurice dan Katia adalah pihak pertama yang mengenalkan Kawah Ijen ke dunia internasional di era modern. Hasil penelitian mereka diterbitkan dalam buku berjudul À l’assaut des volcans, Islande, Indonésie, yang diterbitkan oleh Presses de la Cité di Paris pada tahun 1975.

Dalam studi mereka di Kawah Ijen, pasangan ini membahas sejarah geologi dan vulkanologi Gunung Ijen, karakteristik letusan dalam 200 tahun terakhir, komposisi kimia danau kawah, serta aliran air dari danau yang mengalir ke Sungai Banyupahit.

Air sungai ini dimanfaatkan untuk mengairi 3.500 hektar lahan pertanian dan memenuhi kebutuhan sekitar 100.000 penduduk. Penelitian mereka juga mengulas risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh komposisi kimia air tersebut. (ving)

Editor : Radar Digital
#Kawah Ijen #Bondowoso