Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ini Faktanya Tragedi Gerbong Maut Bondowoso: Kisah Kelam 77 Tahun Lalu, Saat 46 Pejuang Indonesia Tewas Teraniaya

Radar Digital • Jumat, 20 Desember 2024 | 14:10 WIB

BERSEJARAH: Untuk memperingati momen peristiwa Gerbong Maut, Pemkab Bondowoso mengajak seluruh warganya untuk mengibarkan Bendera Merah Putih pada Selasa (23/11) mendatang.
BERSEJARAH: Untuk memperingati momen peristiwa Gerbong Maut, Pemkab Bondowoso mengajak seluruh warganya untuk mengibarkan Bendera Merah Putih pada Selasa (23/11) mendatang.
 

RADAR JEMBER – Pada 23 November 1947, terjadi tragedi mengerikan di Bondowoso, di mana puluhan pejuang Indonesia yang ditangkap oleh Belanda tewas akibat disekap dalam sebuah gerbong kereta.

Peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan "Tragedi Gerbong Maut Bondowoso."

Menurut catatan dalam buku Monografi Daerah Jawa Timur - Volume 1-2 (1977), pada tanggal itu, sekitar 100 orang pejuang Indonesia yang ditawan oleh Belanda diangkut dengan tiga gerbong barang tertutup dari Stasiun Bondowoso menuju Wonokromo, Surabaya.

Peristiwa ini terjadi beberapa bulan setelah Agresi Militer Belanda I, yang dimulai pada 21 Juni 1947, di mana pasukan pro-Republik banyak yang kalah akibat serangan hebat tentara Belanda yang didukung persenjataan modern.

Salah satu kelompok yang porak-poranda akibat serangan ini adalah pasukan Semut Merah, yang anggotanya, seperti Boengkoes, kemudian bergabung dengan Batalyon Andjing Laut di Bondowoso. Boengkoes kemudian dikenal karena keterkaitannya dengan Peristiwa G30S yang menewaskan M.T. Haryono.

Dalam pengakuannya, yang dimuat dalam jurnal Indonesia No. 78 (2004), Boengkoes mengungkapkan bahwa banyak pejuang Republik yang gugur dalam pertempuran dan yang selamat terpaksa mengungsi ke daerah pegunungan.

Dalam operasi besar Belanda, banyak pejuang yang tertangkap, termasuk Koeswari, seorang Komandan Polisi Maesan, Bondowoso, yang ditangkap setelah dilaporkan oleh mata-mata Indonesia yang bekerja untuk Belanda. Koeswari kemudian dibawa ke kantor keamanan Belanda di Jalan Jember, Bondowoso, pada 14 November 1947.

Di sana, dia dan tawanan lain mendapat penyiksaan dari tentara Belanda, baik yang berasal dari KNIL (tentara Belanda yang sebagian besar terdiri dari orang Indonesia) maupun pasukan Marinir Belanda yang dilatih oleh Amerika.

Area Tapal Kuda, termasuk Bondowoso, menjadi salah satu wilayah operasi pasukan Marinir Belanda. Foto-foto kekejaman mereka pun banyak tersebar di internet.

Pada 15 November, Koeswari dan tawanan lainnya dipindahkan ke Penjara Bondowoso dan dipenjara selama lebih dari seminggu. Tawanan lainnya, seperti Singgih, yang ditangkap pada 20 September 1947, juga mengalami siksaan berat, termasuk disekap dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi.

Pada Sabtu sore, 22 November, mereka diberi makan terakhir sebelum dipindahkan. Setelah makan, mereka dimasukkan kembali ke sel masing-masing tanpa ada yang tahu bahwa itu adalah makan terakhir mereka sebelum perjalanan maut yang akan terjadi.

Pada tengah malam, sekitar pukul 01.00, mereka dibangunkan dan dipaksa berbaris untuk dipindahkan. Pukul 05.30 pagi, mereka digiring ke Stasiun Bondowoso untuk dimasukkan ke dalam tiga gerbong barang yang sudah disiapkan, tanpa diberi kesempatan untuk makan pagi atau minum.

Gerbong-gerbong yang digunakan sempit dan tertutup rapat dengan seng, tanpa ventilasi yang cukup. Setiap gerbong berisi sekitar 30 orang. Pukul 07.30, kereta mulai berangkat.

Pada awalnya, suasana masih baik-baik saja, namun menjelang siang, penderitaan mulai terasa. Di dalam gerbong pertama, dengan jumlah tawanan terbanyak, para tawanan kesulitan bernapas karena udara yang pengap.

Terik matahari membuat suhu di dalam gerbong semakin menyiksa. Korban pertama mulai jatuh pada pukul 11.00 saat kereta tiba di Stasiun Kalisat, dengan enam tawanan tewas.

Saat tiba di Stasiun Jember, jumlah korban bertambah menjadi 12 orang. Gerbong-gerbong tersebut diparkir di bawah sinar matahari selama tiga jam, menambah penderitaan para tawanan yang semakin kehausan dan kelaparan.

Di sekitar Stasiun Klakah, hujan lebat memberikan sedikit kelegaan, namun rasa haus dan lapar tetap menghantui mereka.

Sesampainya di Stasiun Probolinggo, para tawanan yang sudah kelelahan dan sakit mulai berteriak meminta bantuan. Mereka mengabarkan bahwa jumlah korban sudah mencapai 30 orang, namun serdadu Belanda tetap tidak peduli. Salah seorang serdadu bahkan menyatakan bahwa lebih baik semua tawanan mati daripada ada yang masih hidup.

Setelah 15 jam perjalanan penuh penderitaan, akhirnya kereta tiba di Stasiun Wonokromo, dengan total 46 tawanan tewas.

Di antara yang masih hidup, 12 di antaranya dalam kondisi sangat sakit, 30 orang lemas tak berdaya, dan hanya 12 yang dianggap masih bisa bertahan. Koeswari termasuk yang sakit parah. Mereka yang masih hidup dipenjara di Penjara Bubutan dan dipisahkan satu sama lain. Beberapa dari mereka baru dibebaskan setahun kemudian.

Tragedi Gerbong Maut ini menjadi salah satu catatan kelam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Perlakuan kejam serdadu Belanda terhadap para tawanan menjadi bukti nyata kebiadaban mereka dalam upaya untuk kembali menguasai Indonesia yang telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Bersama dengan peristiwa seperti pembantaian di Rawagede dan tindakan brutal oleh Westerling, tragedi Gerbong Maut mengingatkan kita akan kekejaman yang terjadi selama masa penjajahan Belanda.

 

Editor : Radar Digital
#Gerbong Maut #Bondowoso