Radar Jember – Bondowoso dikenal sebagai Kota Tape karena terkenal sebagai penghasil tapai. Namun, daerah ini juga menyimpan sejumlah situs bersejarah dari era megalitikum. Terdapat 18 dari 23 kecamatan di Bondowoso yang memiliki situs-situs megalitik, memberikan kesan seolah-olah kita diajak kembali ke masa prasejarah.
Delapan kecamatan di Bondowoso memiliki situs megalitik terbanyak, yaitu Kecamatan Grujugan, Maesan, Wringin, Pujer, Tlogosari, Tamankrocok, Tapen, dan Klabang.
Sejarawan Bondowoso, Tantri Raras Ayuningtyas, mengatakan bahwa Kabupaten Bondowoso sangat layak disebut sebagai "kota seribu megalitik."
Benda-benda peninggalan megalitikum yang ditemukan di daerah ini sangat bervariasi, mulai dari sarkofagus, dolmen, menhir, batu kenong, arca batu, hingga berbagai jenis lainnya.
Peninggalan tersebut diperkirakan sudah ada sejak sebelum Masehi (SM) dan masih dapat dilihat hingga sekarang, menjadikannya tempat yang sangat potensial sebagai wisata edukasi sejarah.
"Ini bisa menjadi pusat penelitian megalitik di Jawa Timur untuk pembelajaran sejarah lokal," ujar Tantri Raras.
Salah satu lokasi yang banyak ditemukan benda megalitik adalah Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, Bondowoso, yang memiliki batu kenong.
Batu kenong adalah batu berbentuk silindris dengan tonjolan di atas dan tengahnya. Meskipun fungsinya belum diketahui secara pasti, batu ini diduga terkait dengan pemujaan arwah leluhur.
Di Desa Pekauman juga terdapat Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB), yang menyimpan ratusan benda peninggalan zaman prasejarah. Hingga kini, PIMB masih berfungsi untuk mencatat dan menyimpan berbagai benda prasejarah yang ditemukan.
Selain itu, Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) menjadi tempat yang penting dalam menjaga dan mengembangkan pengetahuan tentang situs-situs megalitik tersebut. Dengan adanya pusat informasi ini, masyarakat dan pengunjung dapat lebih mudah mengakses informasi terkait situs-situs megalitik yang ada, serta memahami peran dan fungsi benda-benda tersebut dalam konteks sejarah dan budaya lokal.
Ini juga menjadi peluang bagi akademisi untuk melakukan penelitian lebih lanjut, yang dapat memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Timur.
Pengembangan situs megalitik Bondowoso sebagai destinasi wisata edukasi dapat menjadi salah satu cara untuk melestarikan warisan budaya yang sangat berharga ini. Tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan sejarah dan budaya daerah.
Dengan pendekatan yang tepat, Bondowoso bisa menjadi pusat kajian megalitik di Indonesia, menarik minat wisatawan lokal maupun internasional yang ingin lebih mendalami sejarah dan budaya prasejarah Indonesia.
(ving)
Editor : Radar Digital