TAMANSARI, Radar Ijen - Hasil buah-buahan berupa alpukat di Bondowoso tergolong besar. Terlebih di beberapa kecamatan tertentu. Pengembangan pun diharapkan mampu membawa dampak terhadap ekonomi masyarakat. Apalagi setiap tahun, produksi alpukat meningkat.
Pj Bupati Bondowoso Muhamad Hadi Wawan Guntoro, menegaskan bahwa sektor pertanian di Bondowoso memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama dalam produksi alpukat. "Alpukatnya Bondowoso secara ekonomis itu paling bagus," ungkapnya. Ia juga tak menampik adanya beragam potensi lain dalam sektor ini. Seperti kopi, buah-buahan, dan biofarmaka, yang merupakan bahan baku obat-obatan.
Selain aspek produksi, Wawan juga menekankan pentingnya tata kelola yang baik dalam produksi buah alpukat. Menurutnya, hal ini tidak hanya mencakup peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana mengelola dan mengembangkan hilirisasi produk pertanian. "Bagaimana produk pertanian ini membuka peluang usaha lain di UMKM yang berbasis pertanian," jelasnya.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso menunjukkan bahwa produksi buah-buahan di Bondowoso sangat bervariasi. Alpukat menempati posisi terbanyak kelima. Pada tahun 2023, produksi Alpukat memiliki produksi sebesar 54.263 kwintal, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 53.749 kwintal.
Memang buah-buahan lainnya lebih banyak, seperti mangga mencapai 811.533 kwintal, sementara pisang tercatat sebanyak 490.234 kwintal. Selain itu, durian dan nangka juga menjadi komoditas unggulan dengan produksi masing-masing sebesar 107.983 kwintal dan 92.701 kwintal.
Berdasarkan wilayah kecamatan, Sumberwringin menjadi penyumbang terbesar produksi alpukat pada 2023, dengan total 11.473 kwintal. Kecamatan lain seperti Ijen dan Tlogosari juga menunjukkan kontribusi signifikan dengan produksi masing-masing sebesar 8.108 kwintal dan 7.836 kwintal. Wilayah Sukosari dan Maesan masing-masing menghasilkan 5.602 kwintal dan 5.523 kwintal.
Wawan juga menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung sektor pertanian di Bondowoso, terutama dalam hal menjaga stabilitas produksi dan mendorong inovasi di bidang tata kelola serta hilirisasi produk. "Agar masyarakat merasakan pertanian ini, harus ada kebijakan yang mendukung," pungkasnya. (hlb/bud)
Editor : Radar Digital