Kuda Bondowoso memang tak seterkenal sebutan kota ini, yakni tapai. Kuda Bondowoso juga tak sepopuler kopi. Namun, geliat olahraga balap kuda di Bondowoso mulai tumbuh. Tantangan banyak ditemukan. Namun, disadari adanya potensi yang besar, pecinta kuda Bondowoso optimis olahraga ini akan berkembang.
Hilmi Baskoro
Badean, Radar Ijen
Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Bondowoso, Abdul Fatah, menyoroti tantangan yang dihadapi dalam pengembangan olahraga berkuda di Bondowoso. Menurutnya, menjadi joki bukanlah hal yang mudah, apalagi tanpa dedikasi dan kemauan belajar yang kuat.
“Kalau joki itu gampang-gampang susah kalau tidak rajin belajar,” ujar Abdul Fatah, merujuk pada pentingnya pembinaan sejak usia sekolah, mulai dari tingkat Tsanawiyah hingga SMA. Dia mengakui joki olahraga balap kuda di Bondowoso kini didominasi oleh pelajar. Meskipun masih dalam tahap awal, ada beberapa atlet yang mulai menunjukkan prestasi meskipun belum maksimal.
Fatah menegaskan bahwa Bondowoso perlu memberikan perhatian lebih kepada para atlet, terutama mereka yang berjuang di dunia olahraga. “Bondowoso harus banyak memperhatikan pejuang olahraga,” tegasnya. Apalagi balap kuda belum menjadi olahraga yang populer. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya dukungan dari pejabat daerah, yang menurutnya, sebagian besar tidak memiliki ketertarikan terhadap olahraga.
"Untungnya para atlet ini memang hobinya berkuda," tuturnya. Saat ini, anggota Pordasi Bondowoso memang sedikit. Hanya 15 orang. Bagi 15 orang itu pun hanya tersedia delapan kuda. Namun, Fatah terus berusaha, ke depan jumlah ini dapat ditingkatkan dengan perekrutan lebih banyak atlet.
Ia juga mengakui bahwa pembiayaan untuk olahraga berkuda sangat besar, harga kuda tidak lah murah. Sehingga perhatian dari pemerintah daerah menjadi sangat penting. "Harapan kami pemerintah daerah lebih memperhatikan, karena ini bisa berdampak positif pada UMKM dan wisata,” ujarnya, mengingat bahwa olahraga berkuda juga memiliki potensi untuk menarik wisatawan.
Di sisi lain, Fatah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kuda asli Bondowoso yang mulai punah karena banyak dibawa keluar oleh kolektor dari luar daerah. "Kuda-kuda asli Bondowoso hampir punah, karena banyak diambil oleh teman-teman luar,” ungkapnya. Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap peternakan kuda, yang tidak dianggap sepenting peternakan kambing atau sapi.
Padahal, dia menganggap kuda Bondowoso termasuk kuda yang tangguh. Itu lah alasan banyak peminat kuda Bondowoso dari luar kota. Untuk itu, Fatah berharap agar pemerintah tidak hanya fokus pada sektor peternakan tradisional, tetapi juga mulai memberi perhatian lebih pada peternakan kuda. Selain mempertahankan warisan Bondowoso, pemberdayaan peternakan kuda juga dinilai dapat mengembangkan ekonomi lokal. (bud)
Editor : Radar Digital