Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Desa di Ijen Bondowoso Ini Produksi Kopi, Disebut Surganya Kopi dan Jadi Rahim Kopi Arabika Robusta, KOK BISA?

Radar Digital • Rabu, 9 Oktober 2024 | 16:31 WIB
SURGANYA KOPI: Sejumlah emak-emak di Bondowoso Ketika mengolah biji kopi. Kabupaten Bondowoso sendiri menjadi salah satu surganya kopi di Jawa Timur bahkan Nusantara.
SURGANYA KOPI: Sejumlah emak-emak di Bondowoso Ketika mengolah biji kopi. Kabupaten Bondowoso sendiri menjadi salah satu surganya kopi di Jawa Timur bahkan Nusantara.

 Seperti Jadi Rahim Kopi Arabika-Robusta

Melihat Aktivitas Kopi di Desa Sukorejo, Surganya Kopi

Ternyata, keberadaan tanaman kopi di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin nyaris satu abad lamanya.

Di sini, kopi bukan hanya menjadi gaya hidup seperti di kota-kota. Tapi telah menjadi tumpuan ekonomi masyarakat.

Tak heran, jika pengolahan, kegiatan pariwisata, hingga edukasi tentang kopi tersedia di Desa yang sempat mengikuti ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) ini. 

Hilmi Baskoro 
Sukorejo, Radar Ijen

Jarak ke Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen masih 36 kilometer lagi. Namun, hawa dingin telah terasa di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin.

Maklum, tingginya telah mencapai sekitar 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tempat di mana kopi dapat tumbuh subur dan berkualitas.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ijen Murni, Nurul Fadli, mengungkapkan sejarah panjang penanaman kopi di Desa Sukorejo.

Penanaman kopi di daerah tersebut dimulai sejak tahun 1928 oleh para petani.

"Pada awalnya, jenis kopi yang dibudidayakan adalah kopi Robusta. Tanaman ini menjadi komoditas utama bagi petani setempat," ungkapnya, Selasa (8/10) kemarin.

Lebih lanjut, Nurul menjelaskan bahwa kopi Arabika baru mulai ditanam pada tahun 1987 oleh salah satu petani lokal bernama Sudiman.

Almarhum Sudiman menjadi pionir dalam menanam kopi Arabika di tanah Sukorejo.

"Dari sini akhirnya perkembangan kopi Arabika di Sumberwringin dimulai hingga saat ini bahkan sudah jadi salah satu produk unggulan," imbuhnya.

Sementara Pokdarwis Ijen Murni didirikan pada tahun 2017 oleh Harsono, yang kini menjabat sebagai pembina. Sedangkan Nurul Fadli saat ini memimpin sebagai ketua.

Organisasi ini berperan dalam mengelola berbagai program pariwisata dan ekonomi lokal, salah satunya adalah rest area.

"Ini yang menjadi pusat oleh-oleh yang mayoritas produknya berasal dari UMKM lokal Desa Sukorejo," ungkapnya.

Selain itu, Pokdarwis Ijen Murni juga menawarkan paket edukasi kopi dari hulu hingga hilir. Paket ini mencakup pengalaman langsung mulai dari geotrack kebun kopi, pengolahan biji kopi, proses roasting, hingga mencicipi kopi spesial seperti Luwak Arabika.

"Program ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada wisatawan mengenai proses produksi kopi dan sekaligus meningkatkan apresiasi terhadap produk lokal," tutur Fadli .

Dengan luas lahan mencapai 8.000 hektar, produksi kopi di Desa Sukorejo kini mencapai rata-rata dua ton perhektar. Total produksi kopi di desa ini bisa mencapai sekitar 16.000 ton pertahun.

"Hampir 80 persen penduduk Desa Sukorejo bergantung pada kopi sebagai mata pencaharian utama, baik sebagai petani kopi, buruh tani, maupun pelaku usaha UMKM kopi," ungkapnya.

Menariknya, Fadli juga menyoroti kenaikan harga kopi Robusta di pasar. Ia menyebutkan bahwa harga cherry kopi kini mencapai Rp 16.000 per kilogram, sedangkan harga green bean berkisar antara Rp 75.000 hingga Rp 80.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini mencerminkan peningkatan produktivitas serta kualitas kopi di wilayah tersebut. (bud)

 

Editor : Radar Digital
#Bondowoso