Cerita Avi Panca Sakti, Pemuda Bondowoso yang Bikin Lagu Pilkada
Ada Tantangan Tersendiri Dalam Tentukan Bahasa
Avi Panca Sakti, seorang musisi dan penulis jingle untuk Pilkada Bondowoso asal Prajekan, berbagi pengalaman menarik di balik penciptaan lagu yang sarat dengan unsur budaya lokal tersebut. Lahir dari keluarga seniman, dia justru mengaku tertarik kepada musik atas kemauannya sendiri. Bagaimana kisahnya?
Hilmi Baskoro
Prajekan, Radar Ijen
"Awalnya sebagai praktisi musik, saya diundang oleh KPU Bondowoso bersama tujuh orang lainnya untuk membuat jingle dan maskot pilkada," ungkap Avi. Tantangan utama yang diberikan adalah mengangkat tradisi dan budaya Bondowoso, sebuah tugas yang tidak hanya menuntut kreativitas tetapi juga kedalaman pemahaman tentang identitas daerah.
Avi, yang tumbuh dalam lingkungan musik, mengusulkan perpaduan unik antara musik keroncong dan elemen modern. "Saya mengusulkan musik keroncong yang dipadukan dengan musik modern, karena pemilih sekarang didominasi generasi milenial dan Gen Z," jelasnya.
Dengan pendekatan ini, Avi berharap dapat menciptakan jingle yang tidak hanya menarik bagi generasi muda tetapi juga tetap menghormati akar budaya Bondowoso. Komposisi musiknya mencoba menjembatani masa lalu dan masa kini, menggabungkan tradisi keroncong dengan tren musik yang lebih kontemporer, yang disukai generasi yang lebih baru.
Namun, tantangan terbesar dalam proyek ini adalah penggunaan Bahasa Madura dalam liriknya. "Lagu ini harus ditulis dalam Bahasa Madura. Itu jadi tantangan," kata Avi. Menurutnya, jingle ini tidak hanya bertujuan untuk menarik perhatian, tetapi juga menyampaikan pesan edukasi, budaya, dan persuasi kepada para pemilih. Lagu ini dimaksudkan untuk lebih dari sekadar promosi, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam konteks Pilkada.
Proses kreatif di balik jingle ini berlangsung cepat namun intens. Dalam waktu sekitar satu minggu, dari konsep besar hingga rekaman, Avi bersama tim berhasil menyelesaikan jingle tersebut. "Saya memang menggunakan idiom Madura di nada-nadanya. Saya gunakan skala pentatonis," ujar Avi. Skala pentatonis, yang sering digunakan dalam musik tradisional Madura, memperkuat identitas kemaduraan dalam karya tersebut. Hal ini penting karena mayoritas masyarakat Bondowoso adalah suku Madura.
Dalam jingle ini, Avi juga tampil sebagai rapper, sebuah peran yang jarang dia mainkan di karya-karya sebelumnya. "Saya sendiri yang jadi rapper karena kata teman-teman lebih masuk saya," ujarnya sambil tertawa. Sebagai penulis lagu, ia merasa lebih menjiwai peran tersebut. Avi, yang memiliki latar belakang seni sejak kecil, tumbuh di keluarga pecinta musik. "Saya suka musik sudah sejak sebelum masuk TK. Keluarga saya pegiat seni. Ibu dan Bapak saya penyanyi. Kakek saya pemusik keroncong."
Sejak SMP, Avi sudah membentuk band meskipun tidak pernah menjalani pendidikan formal musik. "Tidak pernah belajar musik formal. Pernah daftar kuliah musik, tapi tidak lolos," kenangnya. Meskipun begitu, bakatnya tidak terbendung. Ia bahkan berhasil menjuarai beberapa kompetisi musik meski harus meminjam alat musik. Baru pada tahun 2020, Avi bisa membeli keyboard sendiri, menandai pencapaian dalam perjalanan panjangnya sebagai musisi. (bud)
Editor : Radar Digital