DABASAH, Radar Ijen - Ratusan pelajar SMA dan SMP sederajat di Bondowoso mencolet kain batik berukuran 10 x 10 meter bersama-sama, di sekitaran Monumen Gerbong Maut, pada Minggu (29/9) kemarin. Batik terdiri atas berbagai corak khas Bondowoso. Selain menyambut hari batik nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober, acara ini juga upaya untuk melastarikan batik asli Bondowoso.
Salah seorang pembatik dari Griya Daweaa Batik, Muhammad Badrus Salam, kain batik yang dicolet ini panjangnya yakni 10x10 meter. Motifnya khas Bondowoso. Dia menjelaskan motif ini merupakan hasil perpaduan dari beberapa pembatik. Sementara di tengah motif, ada logo Ijen Geopark. "Ini ada empat layer, itu satu rangkaian satu bagian," jelasnya. Ketika empat layer itu digabungkan, tampak motif batik dalam ukuran besar.
Badrus menjabarkan, mencolet merupakan proses pewarnaan batik dengan menggunakan kuas. Hal ini berbeda dengan proses pewarnaan batik menggunakan canting atau alat lainnya. Untuk mewarnai kain sebesar ini, Badrus mengaku membutuhkan pewarna sebanyak sekitar 15 liter. "Ada berbagai macam warna. Ada warna peach, hijau, merah, dan orange," ujarnya.
Badrus menjelaskan, dalam gelaran peringatan hari batik di tahun sebelum-sebelumnya, perayaan hari batik hanya melibatkan orang-orang yang memang ada di industri batik saja. "Kalau ini kami melibatkan masyarakat. Siswa juga. Makanya masyarakat tadi banyak yang ikut mewarnai. Jadi ini juga biar batik asli Bondowoso lebih dikenal lagi," ungkap Badrus.
Meskipun begitu, nantinya, dalam penyelesaian detail pewarnaan motifnya tetap akan dilakukan oleh perajin batiknya. Jadi bukan masyarakat atau siswa ini. "Karena kalau sudah merambah ke detail ini akan sedikit lebih rumit. Biarkan perajin batiknya saja yang melakukan. Karena ini juga tidak dimungkinkan selesai pagi ini," imbuh Badrus. (hlb/bud)
Editor : Radar Digital