RADAR JEMBER – Kawah Ijen, terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur, telah dikenal sejak 1770 ketika VOC menduduki Banyuwangi dan mendirikan benteng Utrecht. Pada 1786, penambangan belerang di kawah Ijen dimulai untuk keperluan pembuatan mesiu. Kawasan ini kemudian menjadi objek penelitian di berbagai bidang, seperti geologi, vulkanologi, hingga biologi, terutama sejak masa penjajahan Belanda, Prancis, dan Inggris di Jawa.
Kawah Ijen tidak hanya dikenal oleh bangsa Eropa pada masa VOC, tetapi juga menjadi pusat eksplorasi ilmiah di berbagai era kolonial. Pada awal abad ke-19, saat Jawa berada di bawah kendali Inggris (1811-1816), Kawah Ijen tetap menjadi area penelitian, terutama terkait dengan potensi tambang belerang yang penting untuk kebutuhan industri Eropa saat itu. Setelah Belanda kembali menguasai Jawa pada 1816, eksplorasi sumber daya alam di Kawah Ijen semakin intensif.
Kawah Ijen juga terkenal karena penelitian pasangan ahli vulkanologi sal Prancis, Katia dan Maurice Krafft, yang melakukan riset pada 1971 atas permintaan pemerintah Indonesia dan UNESCO. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam buku berjudul “A l’assaut des volcans, Islande, Indonesie” pada 1975. Riset mereka menarik perhatian internasional terhadap fenomena alam unik di Kawah Ijen, termasuk blue fire, yang hanya ada di dua tempat di dunia.
Selain sejarahnya, Kawah Ijen dikenal denga fenomena blue fire yang hanya dapat dilihat pada dini hari. Fenomena tersebut, bersama akivitas tradisional penambangan belerang, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan ini juga diakui sebagai cagar budaya biosfer oleh UNESCO pada 2016, menambah pesona keunikan alamnya.
Wisatawan dapat mencapai Kawah Ijen melalui jalur udara dengan tujuan Malang, Banyuwangi, atau Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan darat. Di sekitar kawasan, pengunjung juga dapat menikmati kopi khas “Kopi Lego” di Dusun Lerek, serta menyaksikan kehidupan penambang belerang yang menggunakan metode konvensional untuk membawa belerang dari dasar kawah.
Pemerintah berencana membangun kereta gantung di kawasan ini untuk mempermudah akses wisatawan, termasuk mereka yang sudah berusia lanjut, sehingga mereka tetap dapat menikmati pemandangan spektakuler tanpa harus turun ke dasar kawah. Dengan jejak sejarah yang begitu panjang, Kawah Ijen menjadi saksi penting interaksi antara manusia dan alam yang berlangsung lebih dari dua abad.
Penulis: Gentry Awali Rahma
Editor : Radar Digital