Radar Jember – Di Bondowoso, tepatnya di Desa Maskuning Kulon, Kecamatan Pujer, terdapat sebuah desa yang dikenal dengan sebutan Kampung Dolmen.
Julukan ini diberikan karena di desa ini banyak ditemukan peninggalan dari era megalitikum, sebuah zaman prasejarah yang terkenal dengan penggunaan batu-batu besar dalam berbagai aspek kehidupan.
Hingga kini, desa ini tidak hanya menjadi saksi bisu masa lalu, tetapi juga tetap mempertahankan tradisi-tradisi kuno yang diwariskan oleh leluhur.
Desa Maskuning Kulon memiliki setidaknya 90 peninggalan megalitikum, seperti Batu Silindris, Batu Dakon, dan Dolmen yang tersebar di berbagai lokasi desa.
Menariknya, batu-batu peninggalan ini tertata rapi dan berdekatan satu sama lain, menciptakan sebuah pemandangan yang unik dan bersejarah.
Masyarakat setempat secara mandiri menjaga dan merawat peninggalan-peninggalan berharga ini, menunjukkan betapa kuatnya rasa kepedulian mereka terhadap warisan budaya leluhur.
Di antara benda-benda megalitikum tersebut, yang paling mendominasi adalah dolmen. Ada sekitar 60 dolmen di desa ini, menjadikannya sebagai salah satu situs dolmen terbesar di wilayah tersebut.
Menurut Tantri Raras Ayuningtyas, seorang sejarawan dan Ketua Pengurus Harian Ijen Geopark (PHIG) Bondowoso, dolmen-dolmen ini berbentuk seperti kompleks pemakaman yang terbuat dari batu besar.
Dolmen tersebut didesain dengan kaki-kaki di bawahnya untuk menjaga agar jenazah yang dikubur tidak terganggu oleh binatang buas atau dicuri.
“Di dalam kubur dolmen ini biasanya terdapat bekal kubur, seperti perhiasan atau benda-benda lain yang dianggap penting,” jelas Tantri, lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Bekal kubur tersebut merupakan bagian dari tradisi masyarakat megalitikum, yang percaya bahwa benda-benda tersebut dapat membantu perjalanan roh ke alam lain.
Selain kaya akan peninggalan prasejarah, Desa Maskuning Kulon juga tetap memelihara tradisi-tradisi kuno yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada hari-hari tertentu, masyarakat setempat mengadakan ritual di sekitar kubur dolmen, menunjukkan bahwa situs-situs ini tidak hanya memiliki nilai arkeologis, tetapi juga penting dalam kehidupan spiritual dan budaya masyarakat desa.
Bondowoso sendiri merupakan bagian dari Geopark Ijen, yang pada bulan Mei 2023 lalu bersama Banyuwangi, ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) dalam sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, Prancis.
Geopark Ijen tidak hanya mencakup keindahan geologis dan ekosistem yang luar biasa, tetapi juga melestarikan situs-situs budaya, baik berupa benda maupun tak benda, yang tersebar di Bondowoso dan Banyuwangi.
Keberadaan Desa Maskuning Kulon sebagai Kampung Dolmen menambah kekayaan budaya dan sejarah di Geopark Ijen.
Situs-situs ini tidak hanya menjadi daya tarik wisata bagi pengunjung, tetapi juga menjadi media pembelajaran tentang kehidupan prasejarah dan pentingnya menjaga warisan budaya yang ada.
Dengan adanya upaya masyarakat lokal dalam merawat dan menjaga peninggalan ini, Kampung Dolmen di Desa Maskuning Kulon menunjukkan bahwa tradisi dan sejarah bisa hidup berdampingan dengan modernitas, menciptakan harmoni antara masa lalu dan masa kini.
Editor : Radar Digital