“Aku selalu bersyukur untuk semua bentuk kepedihan masa lalu yang mewarnai hidupku, karena itulah yang bisa membuatku bisa kokoh berdiri di atas kaki sendiri hingga detik ini”
radar jember - Sambil terus menyeka air matanya, puluhan kata yang terangkai menjadi kalimat di atas yang disampaikannya dengan suara bergetar dan terbata-bata itu rupanya benar-benar tersampaikan dari palung hati. Mendapati takdir terlahir miskin rupanya tidak menyurutkan langkah perempuan yang lahir di desa Sumber Agung Kecamatan Gambiran, Banyuwangi dan terjepit diantara perkebunan kopi dan hutan tersebut untuk terus merangkai mimpi.
Sulusianah terlahir dari seorang ayah yang hanya buruh tani dan ibu rumah tangga, kedua orang tuanya hanya lulusan SD dan tragisnya Sulus adalah anak ketiga dari lima bersaudara, di mana anak pertama sampai keempat didomonasi perempuan semua, sedangkan anak kelima adalah laki-laki. Alhasil karena kemiskinannya, makan nasi jagung atau nasi tiwul adalah makan kesehariannya. Bertemu nasi putih pun baru bisa dirasakannya saat ada acara selamatan agama dan adat di desanya.
Konon, untuk memenuhi kebutuhan sayur, ibunya memanfaatkan tanah di pekarangan yang ditanami berbagai macam sayuran, seperti sawi, kenikir, kemangi, bayam dan kacang panjang sebagian dijual untuk bisa membeli lauk tahu, tempe, ikan asin dan pindang lemuru.
Dari kelima saudaranya, Sulus kecil malah yang sering ikut ibunya ke pasar untuk berjualan sayur. Jarak pasar ke rumahnya sekitar tiga kilometer yang ditempuh dengan berjalan kaki. Sesampainya di pasar, menggelar tikar dan menawarkan dagangan sayur kepada pelanggan, setelah semua sayur habis terjual yang paling ditunggunya adalah jajan cenil dan dawet.
Seperti hal nya ibunya, ayahnya juga seorang pekerja keras, mulai dari mencari kayu bakar di hutan kemudian dijual kepasar, mencari sayur pakis, mencari rotan, menjadi buruh tani sampai menjadi petani penggarap lahan perhutani dengan bagi hasil sekedarnya cukup untuk makan.
Kepedulian besar pada pentingnya pendidikan rupanya sangat membara pada jati diri orang tuanya meski penuh keterbatasan. Sulus kecil memulai sekolah di SDN Karang Doro III dengan jarak sekitar satu kilometer yang ditempuh dengan berjalan kaki. Lulus SD aku diterima di SMP Karya Utama yang berada di Jajag dan berjarak 11 km dari rumah dan ditempuhnya dengan sepeda ontel tiap hari.
Petaka mulai menyapa, tepatnya setelah pengumuman kelulusan SMP, Sulus memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. “Pak, mari lulus SMP kulo ajeng daftar teng SMKK Sri Tanjung Banyuwangi, angsal nggih?”. Tragisnya, ayahnya langsung menjawab “Beh.. sekolahe uaadoh lo kui teko omahe dewe, opo maneh kowe sek kudu kos, urung maneh mangane, lak piro trus biaya ulanane? Kok pas bareng karo adikmu loro-lorone arep mlebu SMP lan SD, sabar sek yo nduk, entenono setahun maneh, mengko yen bapak duwe rejeki bakal tak sekolahne” Sulus yang menirukan dengan lancar jawaban ayahnya saat itu terlihat air matanya semakin deras mengalir.
Tekad kuatnya untuk bisa sekolah meskipun membentur realitas kemiskinan keluarga dan selaksa mimpi yang membentur langit-langit kamarnya rupanya tak seperti skenario Tuhan.
Melalui desakan kakaknya yang sejak kecil dijadikan anak asuh oleh pamannya dan di sekolahkan di SMKK Bondowoso, akhirnya Sulus diijinkan untuk melanjutkan sekolah yang sama di Bondowoso. Menjadi anak kos dengan ukuran kamar kecil diisi empat orang tanpa kiriman orang tua dan hanya mengandalkan pemberian uang dari sang kakak yang memiliki usaha kecil menjahit dilaluinya dengan penuh semangat.
Semestung, semesta rupanya terus mendukung langkahnya, hingga memasuki tahun kedua sekolah di SMKK Bondowoso dengan jurusan tata boga.
Tidak hanya mendapatkan biaya gratis sekolah karena prestasinya, Sulus mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih layak namun dengan syarat mau merawat lansia di rumah tersebut.
Prahara sempat mau menghampirinya lagi, saat itu ketika lulus SMKK da langsung diterima PMDK di Universitas Negeri Surabaya, lagi-lagi karena alasan ekonomi keluarga, Sulus tidak diperbolehkan oleh orang tuanya dan membuat harapannya ingin kuliah kandas. Untungnya, pertolongan Tuhan kembali datang melalui anak lansia yang dirawatnya, Sulus diharapkan tetap merawat nenek tersebut dan dikuliahkan gratis di Universitas Bondowoso (Unibo).
Mengambil jurusan FKIP Matematika adalah takdir yang dijalaninya, tentunya tetap sambil merawat lansia dan tidak lupa menjaga ilmu tata boga dengan jualan kue yang dititipkan ke warung-warung dan juga kantin kampus Unibo sambil kuliah.
Empat bulan setelah lulus kuliah, Sulus diterima sebagai guru honorer di SMK Negeri 1 Bondowoso mulai tahun 2001 hingga 2007. Lagi-lagi semestung, akhirnya Sulus pada tahun 2007 diangkat menjadi ASN guru Matematika dan di tempatkan di SMK Negeri 1 Klabang hingga sekarang.
Tekadnya yang selalu haus dengan pendidikan tidak kaleng-kaleng, meski sedang hamil besar faktanya bisa S2 di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan lulus tahun 2015.
Tidak mau terlena di zona nyaman, ibu tiga anak tersebut mempunyai insting entreprenurship seperti ibunya yakni hobi berdagang.
Banyak sekali produk yang tercipta dari tangan dinginnya, mulai dari minuman herbal hingga aneka makanan telah banyak mendapatkan banyak pelanggan. Salah satu usahanya yang terus melejit adalah minuman kekinian dengan nama brand nya adalah BoBaQu yang lapaknya tersebar di berbagi pelataran supermarket di Bondowoso.
Editor : Radar Digital