Radar Jember - Bondowoso, salah satu kabupaten di Jawa Timur, memang penuh dengan sejarah yang menarik untuk disimak.
Terletak di bagian timur Pulau Jawa, Bondowoso dikenal sebagai satu-satunya kabupaten di Jawa Timur yang tidak memiliki wilayah pantai, namun terkenal dengan julukan "Kota Tape" karena produksi tape singkongnya yang khas.
Bondowoso memiliki sejarah yang panjang, bermula dari abad ke-18 ketika seorang bangsawan bernama Raden Bagus Asra, anak dari Demang Walikromo, memulai perjalanan menuju wilayah selatan Jawa.
Perjalanan Raden Bagus ini tidak hanya sekadar pengembaraan, tetapi juga upaya untuk memperluas kekuasaan dan mengembangkan wilayah baru.
Dikisahkan bahwa pada tahun 1743, terjadi pemberontakan besar terhadap kekuasaan Pangeran Tjakraningrat di Madura.
Adik dari Demang Walikromo, Adikoro IV, yang memerintah saat itu, tewas dalam pertempuran.
Demi keselamatan, Nyi Sedabulangan, nenek dari Raden Bagus Asra, membawa cucunya ke wilayah Besuki yang saat ini menjadi bagian dari Situbondo.
Di Besuki, Raden Bagus Asra diasuh oleh Ki Patih Alus, yang mengajarinya ilmu agama dan bela diri. Seiring waktu, Raden Bagus tumbuh menjadi pemimpin yang tangguh.
Pada usia 17 tahun, ia diangkat sebagai Menteri Anom dengan gelar Abhiseka Mas Astrotruno.
Pada tahun 1789, Raden Bagus Asra ditugaskan untuk memperluas wilayah ke arah selatan, wilayah yang kelak dikenal sebagai Bondowoso.
Setelah melalui perjalanan panjang melintasi hutan belantara, ia menemukan sebuah tempat strategis yang subur dan dipenuhi potensi.
Di tempat inilah, Bondowoso mulai berkembang di bawah kepemimpinannya.
Nama "Bondowoso" sendiri memiliki makna filosofis. Berasal dari kata "Bondo," yang berarti modal atau harta, dan "Woso," yang berarti kuasa.
Nama ini merujuk pada kekuatan dan kewenangan yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki modal dan sumber daya yang cukup untuk memimpin dan berkuasa.
Raden Bagus Asra, yang kemudian dikenal sebagai Mas Ngabehi Astrotruno, diangkat menjadi Demang (penguasa wilayah) Bondowoso pada tanggal 17 Agustus 1819.
Tanggal ini menjadi tonggak sejarah kelahiran Bondowoso sebagai wilayah mandiri yang lepas dari kekuasaan Besuki.
Wilayah yang awalnya hutan belantara ini, di bawah kepemimpinannya, tumbuh menjadi daerah yang lebih maju dan teratur.
Keunikan Bondowoso tidak hanya terletak pada sejarah pendiriannya, tetapi juga pada kekayaan peninggalan zaman megalitikum yang tersebar di berbagai penjuru daerah ini.
Pada tahun 2018, Bondowoso secara resmi dideklarasikan sebagai Kota Megalitikum karena banyaknya situs megalitikum yang ditemukan, mencapai lebih dari seribu situs yang tersebar di seluruh kecamatan.
Salah satu ciri khas lain dari Bondowoso adalah produksi tape singkongnya yang begitu terkenal.
Tape Bondowoso dikenal manis dan lembut, dengan berbagai olahan seperti Tape Manis, Pia Tape, Suwar Suwir, hingga Tape Ngambeng yang menjadi minuman tradisional khas.
Secara keseluruhan, Bondowoso adalah kota dengan sejarah yang panjang dan budaya yang kaya. Meskipun tidak memiliki pesisir, kabupaten ini tetap memikat dengan pesona alam pegunungan, tradisi yang kuat, serta warisan kulinernya yang khas.
Sejarah Bondowoso yang penuh liku dan perjuangan mencerminkan kekuatan dan daya tahan penduduknya, dari masa lalu hingga saat ini.
Editor : Radar Digital