Hari-hari apa pun, Museum Kereta Api Bondowoso ini tampaknya selalu sepi. Mungkin setiap harinya hanya akan ada kepala stasiun dan beberapa stafnya. Pengunjung? Sama sekali tidak ada. Keadaan ini telah terjadi bertahun-tahun terakhir. Coba kita lihat kembali museum kereta api pertama di Jawa Timur ini.
HILMI BASKORO
RADAR IJEN, Kademangan Bondowoso
SULIT rasanya menerka apakah Museum Kereta Api di Bondowoso ini buka atau tidak. Dari luar, tampak seperti tak ada aktivitas apa pun. Baik di halaman maupun di dalam museum. Pintunya pun hanya terbuka sesekali. Serta hanya ada beberapa kendaraan berupa sepeda motor yang terparkir di halamannya. Tak lain itu adalah milik kepala stasiun dan beberapa petugas.
Bertahun-tahun sejak pertama kali diresmikan pada 2016, catatan kunjungan museum ini tak pernah mencapai arah yang baik. "Ini sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, makanya kita rawat," kata Kepala Stasiun Bondowoso atau Museum Kereta Api Bondowoso Sugeng Adiwiyono, beberapa waktu lalu.
Padahal, kunjungan di museum ini tidak dipungut biaya. "Sudah dua tahun mengajukan ke pemkab untuk dikarciskan, tapi tidak disetujui," ungkap pria asal Banyuwangi itu.
Meski di luar tampak biasa saja dan sepi, ternyata museum ini menyimpan banyak benda perkeretaapian peninggalan zaman penjajahan Belanda. Mulai dari gentong untuk menyimpan hasil pertanian, alat-alat untuk memperbaiki kereta dan rel, sampai tiket dan koin Belanda. "Lumayan banyak koleksi benda bersejarahnya," ungkap Sugeng.
Ada berbagai rencana yang dicanangkan untuk kembali menarik wisatawan mengunjungi salah satu museum dari total empat museum kereta apa di Indonesia ini. Salah satunya adalah gerbong baca. "Gerbong ini sebenarnya dikhususkan untuk membaca," ungkap Sugeng sambil menunjuk gerbong kereta yang terparkir di rel dalam stasiun. "Tapi ini tetap pengunjung jarang ke sini," ungkapnya.
Pria yang pernah menjabat kepala stasiun di beberapa stasiun di Jawa Timur dan Jawa Tengah ini juga berencana membuka rute kereta wisata dari Stasiun Bondowoso ini. Hal ini juga salah satu cara untuk menaikkan kunjungan. "Rencananya pakai kereta lori ke Stasiun Wonosari. Untuk sekadar kereta wisata saja," ungkap Sugeng.
Di sisi lain, dalam kurun waktu setahun terakhir, wacana pengaktifan kembali jalur kereta api dari Kalisat, Jember, ke Panarukan, Situbondo, mulai santer. Tentu jalur ini akan melewati Stasiun Bondowoso atau museum tersebut. Sugeng pun menyambut baik rencana itu. Dengan begitu, masyarakat akan kembali menikmati jalur ini setelah 2004 lalu sebagai tahun terakhir aktifnya jalur ini. (c2/bud)
Editor : Radar Digital