JEMBER, RADARJEMBER.ID– Prestasi kembali diraih RS Bina Sehat (RSBS) Jember pada Kamis (20/6) lalu dalam acara Monitoring, Evaluasi, dan Peningkatan Kapasitas Program TBC bagi Rumah Sakit.
Kali ini, penghargaan diberikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Jember kepada RSBS untuk “Penemuan Terduga TBC Sesuai Standar dan Notifikasi Kasus TBC Terbaik Kategori Rumah Sakit Swasta Kabupaten Jember Tahun 2023”.
Penghargaan diterima langsung oleh dr Dian Fitriyana selaku penanggung jawab TB RSBS.
Dijelaskan, hingga saat ini TBC merupakan salah satu masalah kesehatan dengan jumlah kasus tertinggi. Baik secara global maupun di Indonesia.
“RSBS terus berkomitmen dalam penanggulangan kasus tuberkulosis (TBC). Hal itu dibuktikan dengan meningkatkan sistem deteksi dan pelaporan, sehingga tercapainya notifikasi kasus,” ujarnya.
Dokter Dian menambahkan, deteksi TBC mirip dengan deteksi Covid-19, yakni jika tidak dites, dideteksi, dan dilaporkan, maka angkanya terlihat rendah, sehingga terjadi under reporting.
Hal itu mengakibatkan pengidap TBC tidak terpantau dan berpotensi menularkan karena tidak diobati.
Sementara itu, dr Retna Dwi Puspitarini SpP, dokter spesialis paru yang praktik di RSBS sekaligus sebagai Ketua Tim TB DOTS RSBS, mengatakan bahwa jumlah penderita TB di Indonesia menduduki urutan kedua di dunia, setelah India.
Itu karena TB yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis merupakan penyakit yang dengan mudah ditularkan melalui udara, seperti batuk atau bersin.
“Bagi penderita TB, setiap kali batuk dapat menghasilkan sebanyak 300 kuman TB yang melayang dalam percikan dahak dan bisa terhirup orang lain. Kuman selanjutnya masuk ke tubuh dan paling sering bersarang di paru. Tetapi, bisa juga di tulang, usus, otak, dll,” jelasnya.
Selanjutnya, Dokter Retna mengingatkan agar siapa pun waspada terhadap batuk yang diderita dengan gejala klinis seperti batuk selama lebih dari 3 minggu, dahak bercampur darah, demam dan meriang lebih dari sebulan.
Keluar keringat pada malam hari tanpa ada kegiatan, serta nafsu makan dan berat badan menurun.
“Setiap orang perlu meningkatkan kewaspadaan karena kuman TB berada di mana-mana, dan yang paling penting adalah pertahankan tingkat daya tahan tubuh,” imbau dr Retna.
Jika seseorang terpapar kuman TB dan didiagnosis menderita TB, Retna melanjutkan, perlu komitmen antara tim medis, penderita, maupun keluarga pasien untuk menjalani pengobatan.
Sebab, pengobatan TB harus dilakukan secara terus-menerus kurang lebih selama 6-8 bulan, dan dengan pengawasan. (kr/c2/aro)
Editor : Alvioniza