Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pameran Seni Lukis di Bondowoso, Begini Komentar Pelukis Asal Bondowoso

Radar Digital • Rabu, 15 Mei 2024 | 00:10 WIB
KEREN: Lukisan potret tokoh besar ini dilukis dengan perpaduan teknik dan penjiwaan, di Bondowoso. (HILMI/RJ)
KEREN: Lukisan potret tokoh besar ini dilukis dengan perpaduan teknik dan penjiwaan, di Bondowoso. (HILMI/RJ)

radarjember.id - Selain dengan teknik yang mumpuni, pada tahap yang lebih profesional, pelukis perlu menyertakan perasaan saat melukis. Hal ini untuk menguatkan ekspresi pelukis pada karyanya.

Bukan itu saja, diyakini pula bahwa melukis tanpa perasaan, bisa menjadi sebatas lukisan yang “hambar”. Sehingga tidak bisa menyentuh emosional penikmat lukisan.

Setelah penguasaan teknik yang tepat, kata Budiamin, pelukis perlu mencurahkan perasaannya terhadap lukisan yang dia konsep.

Perasaan membuat lukisan lebih bernyawa.

“Karena dari situ, penikmat bisa merasakan, emosi seperti apa yang ingin disampaikan pelukis dalam lukisan itu,” tuturnya di Kelurahan Kademangan, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso.

Pria yang pada bulan Juni nanti menggelar pameran tunggal di Jogjakarta itu mengaku, dia banyak melukis potret anaknya. Karena anaknya lah yang membawanya kembali berani melukis.

“Itulah titik mula saya melukis tidak hanya sekadar dengan teknik, tapi juga dengan penjiwaan dan perasaan yang mendalam,” katanya.

Lebih lanjut, proses-proses melukis yang dilakoni Budiamin, kemudian menjadi proses melukis yang bukan sekadar penggoresan tinta pada kanvas, tapi juga proses yang diawali riset literatur mendalam, kontemplasi ide, pemaknaan objek, dan eksplorasi teknik.

“Sekarang malah lebih lama memikirkan konsepnya daripada proses melukisnya. Karena proses sebelum melukis itu yang panjang,” ungkap pria yang telah memiliki kurator di Jakarta tersebut.

Dengan banyaknya kontemplasi itu, kini Budiamin lebih banyak mengamati lukisan saat proses melukis.

Karena ketika dia melukis dalam dua jam penuh, dia akan berhenti untuk istirahat, sambil memandangi lukisan setengah jadi itu.

“Kadang setengah jam lebih saya mengamati lukisan yang masih dalam proses itu. Dari jauh, juga dari dekat,” ungkapnya.

Maka dari itu dia mendapat kesimpulan, bahwa melukis sebenarnya merupakan perpaduan antara kemampuan teknis dan penjiwaan yang kuat.

“Tanpa teknik melukis, seseorang juga sulit untuk mewujudkan perasaannya. Namun hanya dengan teknik, kemungkinan lukisan tidak ‘berperasa’. Makanya harus seimbang keduanya,” pungkasnya. (hlb/nur)

Editor : Radar Digital
#Bondowoso