Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Melihat Pecinan Bondowoso, Perlu Ada Tontonan Menarik

Radar Digital • Senin, 12 Februari 2024 | 23:08 WIB
PERTOKOAN: Toko di pecinan menjajakan busana untuk perayaan Imlek. Kawasan ini masih jadi pusat ekonomi Bondowoso.(HILMI BASKORO/RADAR JEMBER)
PERTOKOAN: Toko di pecinan menjajakan busana untuk perayaan Imlek. Kawasan ini masih jadi pusat ekonomi Bondowoso.(HILMI BASKORO/RADAR JEMBER)

Pecinan di Bondowoso ini cukup berbeda.

Tidak seperti pecinan pada umumnya yang ada di beberapa kota di Indonesia. Pecinan di Kota Gerbong Maut ini pun sebagai kawasan pertokoan.

Roda ekonomi di wilayah ini pun cukup lama menghiasi Bondowoso. Sampai sekarang tetap eksis, walau mulai muncul mal di Bondowoso.

HILMI BASKORO, Radar Ijen

PECINAN di Bondowoso berada di Jalan PB. Sudirman. Di jalan memanjang yang dekat dengan alun-alun itu terdapat dua toko yang saling berhadapan.

Jalan tersebut juga menjadi denyut nadi perekonomian di Bondowoso.

Ada toko plastik, sembako, peralatan rumah tangga, baju muslim, busana, elektronik, hingga toko perhiasan pun ada di jalan itu.

Walau memiliki nama jalan resmi, tapi orang mengenal dengan sebutan pecinan.

Ya, pecinan di Bondowoso bukan perkampungan, tapi kompleks pertokoan. Dosen ilmu ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jember (Unej), Moehammad Fathorrazi, membenarkan, sejak dulu sampai sekarang pecinan adalah pusat aktivitas ekonomi di Bondowoso. Baik tempat transaksi jual beli, maupun distribusi dan konsumsi.

“Kegiatan ekonomi itu ada tiga, yakni produksi, distribusi, dan konsumsi. Dari dahulu sampai sekarang pecinan daerah yang tetap mengandung ketiga aktivitas ekonomi tersebut,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Dosen yang lahir di daerah pecinan Bondowoso tersebut menambahkan, dengan banyaknya aktivitas ekonomi di pecinan, tak salah jika daerah itu menyerap banyak tenaga kerja.

“Toko-toko baru semakin banyak sebagai pengembangan dari toko sebelumnya. Dahulu satu toko, sekarang menjadi beberapa toko,” ungkapnya.

Di sisi lain, pria bergelar doktor itu menyayangkan berkurangnya daya tampung UMKM di pecinan akibat penertiban.

Tapi, dampak positifnya ialah suasana pecinan jadi lebih bersih. “Toko yang di belakang jadi semakin tampak, sehingga mengundang konsumen,” terangnya.

Di luar itu, Razi menganggap pecinan perlu dibenahi. Berdirinya mal di Bondowoso berefek pada aktivitas ekonomi di pecinan.

Pertokoan di pecinan masih bersifat single purpose, sementara mal sudah multi purpose. Sehingga pecinan bisa kalah saing dengan mal.

Salah satu pembenahan yang harus dilakukan adalah meningkatkan kebersihan. Dekatnya lokasi pecinan dengan pasar setidaknya tidak membuat pecinan turut terlihat kumuh.

“Penataan lalu lintas pecinan juga perlu ditata lebih baik agar tidak macet lagi,” tuturnya.

Menurutnya, sudah waktunya ada event-event tertentu yang bisa mengekspose pecinan.

“Dahulu ada tempat kesenian ketika malam 17 Agustusan di pecinan. Ini bisa ditingkatkan menjadi atraksi barongsai ala Bondowoso atau singo ulung, sehingga bisa menyedot wisman,” pungkasnya.

Salah satu pedagang di sepanjang kompleks pecinan, Mohammad Arifin, mengatakan, menguntungkan bisa berdagang di pecinan.

Sebab, menurutnya ini merupakan titik banyak kunjungan orang.

“Di sini kan selalu ramai. Ramainya itu tidak di waktu tertentu saja. Tapi bisa sepanjang hari dan malam,” ungkap pria asal Grujugan tersebut.

Pria yang akrab disapa Arifin itu memang tidak berjualan seharian penuh. Hanya dari pukul 07.00 sampai 17.00.

Namun, dia selalu mendapat omzet ratusan ribu rupiah.

“Jam tujuh pagi atau delapan saya sudah di sini. Pulangnya baru jam lima sore,” ungkap pria yang sudah sekitar setahun lebih berjualan di pecinan itu. (c2/dwi)

Editor : Radar Digital
#pecinan #Bondowoso