MAESAN, Radar Ijen - Masyarakat Bondowoso diramaikan dengan mobil bak terbuka yang tiba-tiba keliling ke setiap desa. Bukan tanpa sebab, melainkan mereka menjajakan pupuk yang diduga palsu.
Banyak masyarakat tergiur dengan pupuk yang dijual murah tersebut. Namun, setelah dicampur dengan air, pupuk tersebut berubah seperti tepung kanji.
Seorang warga asal Desa Pakuniran, Kecamatan Maesan, Agus, menceritakan pengalamannya ditawari pupuk oleh seorang tak dikenal yang menjajakan di pinggir jalan. "Saat saya duduk di teras rumah ada seorang laki-laki menawarkan pupuk dengan merek asing. Namun, saya tolak karena saya sudah tidak punya sawah lagi," ungkapnya.
Meski begitu, penjual pupuk itu tetap memaksa menawarkan pupuk dengan dalih harganya yang murah. Dia mengaku heran, saat banyak petani di sekitar rumahnya kesulitan pupuk, justru ada orang yang menjajakan pupuk ke rumah-rumah.
Sayangnya, Agus mengaku tidak sempat mendokumentasikan kendaraan dan orang yang menjual pupuk tersebut. Dirinya tidak bisa memastikan apakah pupuk yang ada di pikap itu adalah pupuk bersubsidi (urea dan npk) atau pupuk nonsubsidi. "Pupuknya ditutupi terpal hitam. Jadi, tidak kelihatan mereknya," ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang warga Kecamatan Wringin, Wili, menjelaskan, berdasarkan pengalaman, petani di lingkungan sekitarnya merasa ditipu dengan pupuk yang dijajakan ke setiap desa. “Ya, memang murah, karena pupuknya palsu,” terangnya.
Jika dilihat sekilas, kata dia, pupuk palsu tampak seperti asli. Bentuknya mirip Phonska. Tetapi, ketika pupuk palsu itu dicampur dengan air, maka akan mengental seperti tepung kanji. “Itu kayak mutiara, seperti Phonska,” imbuh dia.
Biasanya, pupuk palsu tersebut dijual murah dengan harga variatif . Mulai Rp 120 ribu hingga Rp 140 ribu per kintal, “Banyak yang sudah tertipu dengan modus penjualan pupuk murah tersebut. Ya, memanfaatkan kelangkaan pupuk dan harganya yang mahal,” terang dia.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi II DPRD Bondowoso A. Mansur mengaku, sekalipun pupuk yang dijajakan adalah pupuk asli yang disubsidi pemerintah, tetap tidak boleh dijajakan sembarangan. Sementara, jika pupuk nonsubsidi boleh saja dijajakan. “Kalau subsidi kan sudah ada wilayahnya. Kalau nonsubsidi boleh saja,” terang dia.
Dia berharap warga, khususnya petani, tidak mudah terkecoh dengan embel-embel pupuk murah. “Bisa saja itu pupuk palsu. Kita memang perlu bukti. Tetap waspada dengan berbagai modus apa pun,” pungkasnya. (faq/c2/fid)
Editor : Radar Digital