Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jadi Ikon Bondowoso, Singo Ulung Seram Tapi Seru Dimainkan

Radar Digital • Minggu, 21 Januari 2024 | 16:40 WIB
KESENIAN: Sejumlah Singo Ulung menunjukkan kebolehannya tampil di depan penggemar tradisi asal Bondowoso.
KESENIAN: Sejumlah Singo Ulung menunjukkan kebolehannya tampil di depan penggemar tradisi asal Bondowoso.

SEJARAH Singo Ulung membentang dari waktu ratusan tahun lalu. Berawal dari Desa Blimbing, Kecamatan Klabang dan hanya sebatas ritual desa. Namun, kini Singo Ulung menjadi salah satu ikon Bondowoso. Bahkan Singo Ulung sering digelar di acara-acara resmi di pemerintah daerah.

Berdasarkan asalnya, Singo Ulung tidak terlepas dari Desa Blimbing, terutama terkait tokoh Jujuk Sengo atau yang lebih dikenal Juk Seng. Juk Seng merupakan tokoh yang membabat hutan yang menjadi cikal bakal desa Blimbing. Juk Seng sampai di Desa Blimbing setelah melakukan perjalanan dari Kerajaan Blambangan, yang kini masuk wilayah Banyuwangi.

Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso menceritakan, kedatangan Juk Seng di Desa Blimbing tidak langsung disambut baik. Seketika sampai Jukseng langsung diajak duel oleh salah satu tokoh yang bernama Jasmin. “Namun Duel itu dimenangkan oleh Juk Seng, Jukseng pun diangkat menjadi kepala desa,” bebernya.

Dari pertarungan itulah kemudian menjadi sebuah tradisi turun-temurun yang hingga saat ini dilestarikan oleh masyarakat Bondowoso. Pertarungan tersebut dikenal dengan nama Ojhung di Desa Blimbing. “Ojhung ini merupakan cikal bakal bagian dalam bersih desa di Desa Blimbing,” ungkapnya.

Kemudian, dari pertarungan-pertarungan itu, Juk Seng menjadi yang paling kuat. Dari situ dia dijuluki sebagai Singo Ulung atau tak terkalahkan. “Selain itu juga karena Juk Seng ini dipercaya memiliki kemampuan seperti singa. Bahkan juga dipercaya bisa berkomunikasi dengan singa,” ungkapnya.

Sepeninggalan Juk Seng, ritual bersih Desa Blimbing dilakukan secara kontinu dari tahun ke tahun. Pelaksanaannya dilakukan selama dua hari. Yakni pada tanggal 14 dan 15 bulan Syaban atau 15 hari sebelum menjelang puasa Ramadhan.

Sampai saat ini pun, tradisi Singo Ulung masih bertahan. Bahkan banyak ditampilkan oleh berbagai generasi. “Sampai saat ini ya bertahan di Desa Blimbing itu. Bahkan masih sering diundang untuk acara-acara resmi pemerintahan,” pungkasnya. (mg1/qal)

 

 

Editor : Radar Digital
#singo ulung #Bondowoso