KOTAKULON, Radar Ijen – Panen raya ternyata bukan hanya memberi kebahagiaan kepada pedagang buah manggis, tapi juga kesulitan. Karena membeludaknya hasil panen, harga jual manggis justru merosot. Bahkan bisa jeblok Rp 10 ribu per tiga kilogram.
Salah satu pedagang buah manggis, Noval Dewantara, mengatakan, panen raya manggis di Pulau Bali sudah dimulai sejak November lalu. Kemungkinan itu akan berlangsung hingga bulan Februari nanti. “Tapi, bulan Februari itu sudah sedikit,” ungkapnya saat ditemui di lapaknya di Kotakulon, Kamis (18/1).
Namun, panen raya yang memproduksi manggis secara besar-besaran justru membuat harga manggis anjlok. Saat ini saja, di Bondowoso harga manggis hanya menyentuh angka Rp 7 ribu. “Padahal normalnya, harga manggis itu bisa Rp 20 ribu per kilogram,” ungkap pria asli Kintamani, Bali, tersebut.
Pria yang akrab disapa Noval itu mengungkapkan, di tempat dia berasal, setiap keluarga bisa memiliki kebun manggis dengan luas tiga sampai lima hektare. “Jadi, tak heran lagi kalau manggis di Bondowoso paling banyak didatangkan dari Bali,” ungkapnya.
Pedagang buah manggis lainnya, Muhammad Hannan, mengatakan, selain menjual manggisnya di Bondowoso, dia juga menjualnya ke luar negeri. “Kalau yang saya ekspor itu yang bagus-bagus saja. Harganya tidak semurah di sini. Kalau diekspor bisa sampai Rp 70 ribu per kilogram,” ungkap pria yang akrab disapa Bang Lelot tersebut.
Hannan menambahkan, harga manggis di Bondowoso terbilang hancur. Sebab, lebih murah daripada daerah lain. “Di Jember harganya masih di kisaran Rp 10 ribu per kilogram. Di Bondowoso bisa menjual Rp 8 ribu saja sudah enak,” ungkapnya.
Bukan tanpa alasan, Noval mengaku dua bulan terakhir ini dia menjual manggisnya di harga Rp 5 ribu per kilogram. Bahkan juga bisa sampai Rp 10 ribu per tiga kilogram. “Persaingan pedagang di sini sangat ketat. Makanya saya berani untuk jual murah. Asalkan tidak rugi. Setidaknya modal saya balik,” pungkas Noval. (mg1/c2/fid)
Editor : Radar Digital