Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Buat Kaligrafi dengan Solder, Ali Imron, Perajin Kaligrafi dari Lojajar, Tenggarang, Kirim Karyanya ke Seluruh Indonesia

Radar Digital • Selasa, 9 Januari 2024 | 01:00 WIB

MENGUNTUNGKAN: Ali Imron sedang membuat pesanan kaligrafi.
MENGUNTUNGKAN: Ali Imron sedang membuat pesanan kaligrafi.

Seni melukis huruf Arab atau kaligrafi menjadi hal yang cukup akrab. Dengan kepiawaiannya, Ali Imron, perajin kaligrafi asal Desa Lojajar, Kecamatan Tenggarang, membuat kaligrafi semakin beragam. Ada kaligrafi dengan teknik dibakar hingga kaligrafi 3D.

DUDUK bersila dan mengenakan kopiah warga putih, Ali Imron tampak serius menyelesaikan pekerjaannya. Tangannya begitu piawai dalam merangkai tulisan Arab menjadi hal yang istimewa. Ditelisik lebih dekat lagi, dalam membuat kaligrafi Ali Imron tidak memakai spidol, bolpoin, ataupun alat tulis pada umumnya. Di tangannya ada solder. Alat pemanas yang biasanya dipakai tukang listrik itu digunakannya untuk membuat kaligrafi bakar.  “Oh, ini kaligrafi bakar,” ucapnya.

Ali Imron belajar kaligrafi huruf Arab sejak SMA dan semakin dimatangkan saat di pesantren. Ali Imron kini mengaku kewalahan memenuhi pesanan kaligrafi. Sebab, dalam sebulan, dia bisa membuat belasan hingga puluhan kaligrafi. Padahal pembuatan kaligrafi bisa memakan waktu berhari-hari.

Namun, normalnya, dalam sebulan dia lebih sering mendapat pesanan hingga 10 buah. Bahkan bisa melebihi itu. “Tapi, paling normalnya, setiap bulan setidaknya ada delapan pesanan,” ungkap pria asal Desa Lojajar, Kecamatan Tenggarang, Bondowoso, itu.

Pria 25 tahun ini baru serius dengan usahanya membuat kerajinan kaligrafi dan telah mengirim hasil karyanya ke berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari kabupaten sebelah sampai provinsi lain. Dia mengungkapkan, pernah mendapat pesanan dari Jakarta. “Selain Jakarta, pernah dapat pesanan dari Sumenep, Bangkalan, Lumajang, Probolinggo, Pasuruan, dan Jember,” ungkapnya.

Sebagian besar pesanan itu berupa plakat atau hadiah dalam bentuk kaligrafi. Baik ucapan ulang tahun, ataupun semacamnya. Dia juga beberapa kali membuat kaligrafi di masjid-masjid. “Tapi yang paling banyak memang kaligrafi untuk hadiah. Biasanya yang ukuran 40x50 sentimeter,” ucapnya.

Selain kaligrafi yang ditulis dengan cat biasa, Ali juga membuat kaligrafi lukis bakar. Selain itu, ada pula kaligrafi tiga dimensi. Namun, Ali mengungkapkan, kaligrafi lukis bakar yang paling banyak diminati. “Tapi, kalau yang paling mahal kaligrafi tiga dimensi. Soalnya pengerjaannya lebih detail,” ungkapnya.

Harga kaligrafi tiga dimensi bisa menyentuh angka hampir satu juta rupiah. Sementara, kaligrafi biasa lebih banyak di ratusan ribu rupiah. “Kaligrafi tiga dimensi itu kisarannya 800 ribu. Kalau yang biasa-biasa itu 120 ribu sudah dapat. Termasuk yang lukis bakar,” ungkapnya.

Ali mengaku, sebenarnya ketika di pondok pesantren dia sudah sering menggarap pesanan pembuatan kaligrafi. Akan tetapi, dia tidak bekerja atas nama pribadi. Melainkan menerima pesanan atas nama pondok pesantren. Dia juga sering membuat dekorasi panggung. “Jadi, saya berlatih menerima pesanan dari itu. Akhirnya terbawa sampai pulang,” ungkapnya. (mg1/c2/dwi)

 

 

 

Editor : Radar Digital
#kaligrafi #Bondowoso