RADARJEMBER.ID – Kisah tragis yang terjadi di Stasiun Bondowoso menjadi saksi bisu terhadap peristiwa memilukan.
Peristiwa ini menewaskan sejumlah besar masyarakat Indonesia pada masa peralihan dari penjajahan Jepang ke Belanda yang bersekutu.
Peristiwa ini dimulai ketika Angkatan Moeda Kereta Api (AMDA) merebut kendali sistem perkeretaapikan dari Jepang yang menandai berdirinya Djawatan Kereta Api Indonesia (DKARI).
DKARI bertanggung jawab mengambil alih pengelolaan kereta api yang sebelumnya dipegang oleh Jepang, memperbaiki sistem perkeretaapian di Indonesia, terutama di wilayah Jawa.
Namun, ketika pasukan Sekutu dan Belanda mencoba masuk ke Indonesia pada tahun 1947.
Mereka menguasai tempat-tempat penting seperti stasiun kereta sebagai upaya untuk menghalangi kemerdekaan Indonesia.
Mereka juga melakukan penangkapan besar-besaran terhadap Tentara Republik Indonesia (TRI) dan orang-orang yang dicurigai, termasuk di Bondowoso.
Para tawanan ditempatkan dalam penjara dan diinterogasi oleh pihak Belanda.
Pada 23 November 1947, ada sekitar 100 orang tawanan Indonesia disiapkan untuk dipindahkan ke penjara yang lebih besar di Surabaya.
Mereka dipaksa masuk ke tiga gerbong barang tanpa sirkulasi udara yang membuat penderitaan semakin terasa.
Juga tidak diberi makanan atau minuman sebelum perjalanan dimulai.
Perjalanan sekitar 240 kilometer dari Bondowoso ke Surabaya berlangsung selama 13 jam di bawah teriknya sinar matahari.
Para tawanan menderita dalam kondisi gerbong yang tertutup rapat tanpa ventilasi.
Teriakan dan usaha untuk mendapatkan udara segara menjadi terdengar ketika kereta berhenti di Kalisat, Jember.
Namun, Belanda tetap mengabaikan kondisi tersebut dan melanjutkan perjalanan yang menyebabkan kondisi tawanan semakin memburuk.
Ketika gerbong dibuka di Surabaya, ada sekitar 90 orang yang pingsan dan beberapa diantaranya meninggal dunia.
Dari 100 tawanan yang awalnya berangkat, sekitar 46 orang tewas dan sisanya dalam kondisi yang sangat lemah.
Monumen Gerbong Maut dibangun di Alun-alun Kota Bondowoso sebagai pengingat atas tragedi tersebut. (mm6/bud)
Editor : Radar Digital