Istilah “Jas Merah” yaitu Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, yang diucapkan Proklamator RI, Bung Karno, menjadi motivasi Pemerintah Desa (Pemdes) Prajekan Lor, Kecamatan Prajekan, untuk terus mengadakan acara mengenang jasa para pahlawan lokal. Hal itu merupakan salah satu cara memperkenalkan sosok yang turut berjuang membela tanah air dari Bumi Ki Ronggo ini kepada generasi muda.
DESA Prajekan Lor, tahun 2018 lalu desa ini telah dinobatkan sebagai desa budaya oleh Pemkab Bondowoso. Hal itu berdasarkan kepedulian pemdes serta masyarakat terhadap kelestarian sejarah di Bondowoso. Bahkan, desa itu tercatat sebagai tanah yang melahirkan para pahlawan lokal yang turut berjuang pada agresi militer Belanda tahun 1948 silam.
Salah satunya yaitu Santawi, pahlawan asli Kota Tape, saat ini namanya diabadikan menjadi nama jalan di Kelurahan Nangkaan, Kecamatan Bondowoso. Hal itu sebagai penghargaan dari Pemkab Bondowoso kepadanya yang telah berjuang membela tanah air, yang berpusat di Prajekan Lor. Bahkan, persemayamannya juga berada di desa tersebut.
Selain Santawi, ternyata ada juga pahlawan lokal dari Prajekan. Yaitu Letnan Amir Kusman. Namanya juga telah diabadikan menjadi nama jalan di depan Kantor Pemkab Bondowoso, Kelurahan Dabasah.
Keberadaan pahlawan lokal itu menjadi aset berharga kebanggaan warga. Sehingga, setiap tahun masyarakat setempat kerap memperingati perjuangan pahlawan itu pada bulan Agustus. Peringatan itu pun dikemas dengan berbagai macam agenda. Seperti lomba budaya, tabur bunga di makam pahlawan, dan lainnya. "Tanggal 14 Agustus, bertepatan pada Hari Jadi Pramuka, saya ajak semua pelajar itu untuk menabur kembang ke makam Santawi. Agar mereka mengenal pahlawan mereka yang telah mengorbankan nyawanya untuk Bondowoso," ucap Kades Prajekan Lor Fandi Shofan kepada Jawa Pos Radar Ijen.
Pihaknya juga mengadakan acara memeragakan kebiasaan pada zaman dahulu. Seperti kebiasaan ronjengan, yaitu memisahkan kulit beras yang baru dipanen menggunakan alat tradisional. "Kemasan lombanya sangat beragam. Kami mengadakan lomba kebiasaan untuk memeragakan budaya lama, sepeti ronjengan," urainya.
Tak hanya itu, pahlawan Bondowoso yang berasal dari luar Desa Prajekan Lor turut diperingati. Seperti kisah perjuangan Magenda, Koesnadi, dan lainnya. "Kami juga mengangkat cerita pahlawan Bondowoso, agar masyarakat tahu dan paham tentang sejarah. Dan ini kami lakukan setiap tahun," pungkasnya. (mun/c2/dwi)
Editor : Radar Digital