Blue fire menjadi fenomena alam yang menakjubkan di Kawah Ijen. Selain pemandangan alam yang memukau, ternyata wisatawan juga mendapatkan oleh-oleh khas dari Ijen. Batu belerang itulah oleh-olehnya. Bahkan, penambang juga semakin kreatif dengan mengukir batu belerang itu.
SAMPAI ke puncak Ijen, rasa lelah mendaki akan terbayar lunas dengan melihat panorama alam yang menakjubkan. Air danau Kawah Ijen berwarna toska menjadi pemandangan yang berbeda dengan gunung-gunung berapi pada umumnya. Di sisi lain, ada hal yang mencuri perhatian wisatawan saat tiba di puncak Ijen itu. Yaitu, penambang belerang yang menjajakan suvenir batu belerang.
Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, batu belerang itu ada yang berbentuk kura-kura, bunga, Hello Kitty. Bahkan ada juga batu belerang dibuat gantungan kunci, hingga pin dengan tulisan I love Ijen. Suryadi, seorang penambang belerang asal Banyuwangi, memproduksi suvenir memang diperuntukkan sebagai oleh-oleh para wisatawan. "Ini sebagai sampingan kami. Menjual suvenir dari belerang kepada pengunjung. Kami buat semenarik mungkin," katanya.
Dia juga mencantumkan tulisan menarik di atas suvenir tersebut. "Saya buat semenarik mungkin. Di atasnya dikasih tulisan I Love Ijen, sebagai bukti mereka pernah sampai ke puncak Kawah Ijen," terangnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.
Suryadi menjelaskan, ide membuat suvenir dari belerang itu cukup lama. Bahkan bisa lebih dari dua dasawarsa. "Suvenir ini terbuat dari cairan belerang yang dicetak dan didinginkan selama 10-20 menit. Cetakannya memang bermacam-macam bentuknya dan dibuat langsung di dasar Kawah Ijen. Ada kura-kura, kepiting, dan lainnya," ucapnya.
Namun, seiring berjalannya waktu, para penambang semakin kreatif. Cetakan batu belerang berbentuk hati itu bisa dibubuhi tulisan dengan cara diukir. Bahkan, dalam tas Suryadi juga ada bor ukir berbentuk mini, lem, hingga peniti. “Peniti dan lem ini dipakai untuk belerang berbentuk pin,” paparnya. Bahkan, Suryadi bisa mengukir nama wisatawan di batu belerang itu.
Kepada wisatawan, Suryadi memberikan harga yang beragam. Mulai dari Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu, bergantung pada kesulitan pembuatan dan besarnya suvenir. "Harganya beda-beda. Ini Rp 10 ribu, kalau yang itu Rp 25 ribu. Setiap hari bisa laku sampai dua puluh suvenir. Kalau akhir pekan, kadang bisa lebih," tuturnya.
Para penambang belerang di kawasan Ijen memproduksi berbagai macam suvenir itu sebagai tambahan penghasilan. Sebab, belerang yang dijual mentah harganya dinilai masih cukup rendah. Harga belerang per kilogram hanya Rp 1.000 sampai Rp 1.200. Jika dibandingkan dengan medan yang harus ditempuh dan beban yang dibawa setiap harinya, nominal itu dinilai tidak cukup. Sebab, satu kali menambang, mereka hanya bisa menghasilkan kurang lebih 70 kilogram. Oleh karena itu, mereka mencoba cara lain dengan membuat kerajinan tangan yang menarik. (c2/dwi)
Editor : Radar Digital