Aset negara berupa hutan dan lahan di Bondowoso belakangan menjadi langganan kebakaran. Tahun ini, setidaknya ada sembilan kejadian karhutla yang nyaris mencapai 100 hektare. Hal itu justru menimbulkan pertanyaan, bagaimana pencegahan dan proses penanganan dari pemerintah daerah. Apalagi, sejauh ini penanganan hanya dilakukan secara manual.
KEBAKARAN hutan menjadi hal yang membuat kepala petugas pemadam kebakaran atau damkar itu geleng-geleng. Sebab, saat menuju lokasi, peralatan lengkap beserta mobil damkar tidak bisa menjangkau.
Sejak Juni kemarin hingga sekarang, setidaknya ada sembilan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam skala besar. Di antaranya kebakaran hutan di RPH Kecamatan Curahdami pada Petak 18 C. Kebakaran hutan di Petak 72 A Dusun Arak-Arak, Desa Sumbercanting, Kecamatan Wringin, bahkan terjadi dua kali di waktu yang berbeda.
Dilanjut kebakaran hutan jati di Kecamatan Curahdami, kebakaran lahan di Desa Paguan, Kecamatan Taman Krocok, seluas 500 meter. Kebakaran lahan seluas dua hektare akibat limbah tebu di Desa Gunung Anyar, Kecamatan Tapen. Terakhir, kebakaran hutan kurang lebih 82,5 hektare di Pegunungan Ijen, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, yang terjadi dua kali.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bondowoso Yuliono Triandana menyampaikan, setiap kali kejadian karhutla, pihaknya selalu terkendala dengan sarana dan prasarana atau sarpras. Karena itu, penanganan hanya dilakukan secara manual. Sementara, kejadian itu kerap kali berada di titik yang tidak terjangkau, seperti di tengah hutan. "Karena sarana dan prasarana tidak memadai, jadi kami kerja sama dengan damkar. Itu pun kalau titik apinya terjangkau," katanya.
Para petugas pun hanya pasrah dengan keadaan api yang terus membesar. Bahkan seolah api itu diberi keleluasaan untuk menghanguskan hutan dan lahan di Kota Tape. Sementara, para petugas yang turun ke lapangan tidak dapat melakukan penanganan yang maksimal. Hasilnya, mereka menunggu sampai api padam dengan sendirinya. "Sarpras di BPBD menjadi kendala, sehingga api ditunggu hingga padam sendiri. Namun, kami juga memakai alat yang cukup sederhana. Seperti memakai teknik gepyok dengan mengandalkan ranting untuk dipukulkan ke apinya," ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.
Di sisi lain, Yuli juga menyinggung tentang pencegahan. Menurutnya, BPBD Bondowoso telah melakukan sosialisasi untuk mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dengan potensi api saat beraktivitas di tengah hutan. "Kami sebenarnya telah mengimbau masyarakat, kalau ada di lokasi hutan lebih berhati-hati. Seperti tidak membuang rokok sembarang dan menjaga kemungkinan terjadinya kebakaran," bebernya.
Sebab, dari beberapa kejadian karhutla itu, BPBD telah menyimpulkan dua penyebab. Di antaranya kondisi cuaca yang cukup panas. Kemudian, ada unsur kelalaian dari oknum yang tidak bertanggung jawab. "Kemudian, untuk penyebab hanya ada dua, yaitu kondisi cuaca panas ekstrem, kedua kelalaian manusia sendiri," pungkasnya. (mun/c2/dwi)
Editor : Radar Digital