BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID- Konon, banyak peninggalan jaman dahulu yang terkubur di lokasi Watu Lawang mulai dari keris, cincin, gimang atau sering disebut gelang terkubur di tempat tersebut.
Hal itu menarik perhatian, para pecinta benda kuno termasuk para penyuka mistis. Maka tidak heran, jika banyak pengunjung yang datang untuk tujuan diatas.
Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, Gede Budiawan menjelaskan, berdasarkan catatan babat Bondowoso sekitar tahun 1789, ketika Ki Ronggo memperluas wilayah ke arah selatan, sudah ditemukan desa-desa kuno yang menyembah batu besar.
"Itu berdasarkan catatan babat Bondowoso, di zaman nenek moyang terdahulu," jelasnya.
Memang di dua desa tersebut, banyak ditemukan batu-batu peninggalan zaman megalitikum. Uniknya, selain memiliki bentuk yang cukup besar, Watu Lawang juga digunakan sebagai penanda, datangnya musim kemarau oleh para warga sekitar.
Mereka percaya, jika matahari sudah berada di tengah batu itu, maka musim kemarau akan tiba.
"Masyarakat di desa tersebut mayoritas bertani, sehingga ketika musim kemarau maka banyak yang menanam padi," ucapnya.
Budi juga mengaku merencanakan Watu Lawang sebagai destinasi wisata cagar budaya. Namun, hal itu tidak semudah yang dikira. Banyak persyaratan yang harus dilakukan.
"Soalnya, destinasi cagar budaya berbeda dengan membangun destinasi wisata buatan. Harus ada beberapa persyaratan yang dilakukan," imbuhnya.
Berdasarkan informasi dari masyarakat, Watu Lawang sering dijadikan sebagai tempat upacara persembahan. Hal itu bertujuan agar musim kemarau tidak terlalu panjang.
Meski kegiatan tersebut sudah tidak dilakukan. Namun warga sekitar masih banyak yang menganggap batu itu sakral.
"Banyak orang Islam terdahulu yang bersemedi, untuk mencari ketenangan di sana," pungkasnya. (faq/ham)
Editor : Alvioniza