TAMANSARI, Radar Ijen - Banyak desa di Bondowoso yang belum serius melakukan pembangunan. Setiap kepala desa diminta agar bisa memaparkan permasalahan maupun potensi yang ada. Hal itu bisa dilakukan dengan memberikan laporan data secara objektif. Di sisi lain, partisipasi masyarakat dalam membangun desa harus terus dihidupkan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Bondowoso Ahmad menjelaskan, tujuan adanya pemaparan kondisi dan potensi desa agar masyarakat bisa paham tentang desanya saat ini. "Jadi, masyarakat bisa paham, anggaran ini dilakukan untuk apa, potensi yang ada perkembangannya seperti apa," bebernya.
Menurutnya, pemaparan data bisa berbentuk aplikasi yang bisa diakses oleh setiap masyarakat. Pemerintah desa (pemdes) diminta untuk bisa update dengan teknologi, agar produktivitas kinerja setiap desa bisa dipantau. "Selama ini kan banyak masyarakat belum paham kinerja dan program desa," ungkapnya.
Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Inspektorat Bondowoso itu menambahkan, adanya pemaparan data desa tersebut bisa dijelaskan ketika sudah dilakukan musyawarah desa (musdes) setiap tahunnya. Namun, saat ini kebanyakan desa hanya mengambil data dari tahun sebelumnya. Hal itu tentu sangat disayangkan. Sebab, masyarakat akan menilai bahwa pihak pemdes tidak serius dalam mengatasi suatu permasalahan desa.
Sejauh ini, pemdes dituntut untuk bisa memaksimalkan potensi yang ada di desa. Hal itu sebagai dukungan terhadap perekonomian desa. Dia mencontohkan program pembuatan saluran irigasi yang bagus. Maka hal itu perlu adanya publikasi berbentuk aplikasi.
Ahmad berharap, dalam musda pihak desa bisa berperan aktif untuk bisa memaparkan setiap kinerja yang telah dilakukan selama satu tahun. Hal itu bisa menjadi sebuah penilaian positif terhadap masyarakat. "Ketika datanya tidak benar, saya yakin kinerjanya juga sudah pasti tidak benar," pungkasnya.
Ahmad menjelaskan, pembangunan desa tidak hanya dilakukan Pemdes, tapi juga masyarakat. Oleh karena itu, kesuksesan desa juga dari masyarakat itu sendiri. Dia menyebut kesadaran masyarakat desa juga perlu ditingkatkan.
Hal itu seperti yang terjadi pada warga Desa Sumber Kemuning, Kecamatan Tamanan, yang turut berkontribusi dalam penerangan jalan umum atau PJU. Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, walau PJU itu mati, warga secara sukarela melakukan penggantian lampu PJU yang mati dan redup tersebut.
Kades Sumber Kemuning, Kecamatan Tamanan, Robi Sofyan Sajid menjelaskan, dana perbaikan JPU patungan antara pemdes dengan masyarakat setempat. "Sebelumnya kami buatkan khusus lampu LED. Tapi, karena kurang terang, kami ganti lampu biasa," bebernya.
Lampu LED yang berada di sepanjang jalan Kantor Desa Sumber Kemuning memang sering mati. Dengan kerja sama masyarakat, puluhan lampu LED yang berjejer di jalan tersebut diganti lampu merkuri.
Sofyan melanjutkan, sebelumnya, jalanan di daerah tersebut gelap dan sepi. Hal itu menjadikannya rawan kecelakaan dan terjadinya tindak kriminal. "Saat ini saja, masih ada beberapa titik lampu yang sudah mati lagi. Ke depan akan segara kami perbaiki. Kalau menunggu dari dinas terkait, maka akan membutuhkan waktu lama," pungkasnya. (faq/c2/dwi)
Editor : Safitri