Kondisi ekonomi dan sebagai anak yatim bukan alasan untuk tidak maju. Itulah yang ditunjukkan Intan Yulia Asy'ari. Kegigihan dan tekad kuatnya membuat dia sukses di dunia menjahit.
AHMAD MA'MUN, Koncer Kidul, Radar Ijen
KEDIAMAN Intan Yulia Asy'ari di Desa Koncer Kidul, Kecamatan Tenggarang, cukup sederhana. Namun, saat masuk ke ruang tamu rumahnya, justru banyak ditemukan mesin jahit.
Dari mesin jahit tersebut Intan bisa mendapatkan rupiah. Segala jenis pakaian dapat ditangani sesuai pesanan. Mulai dari topi, kemeja, kaus, sampai celana untuk pakaian perempuan dan laki-laki.
Sambil menunggu pesanan datang, Intan mengerjakan jahitan baju yang bakal dia buat untuk dirinya sendiri. Dia tidak lagi bekerja kepada orang lain, melainkan membuat usaha sendiri.
Difasilitasi Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Bondowoso, Intan mengikuti pelatihan dan mendapatkan bantuan mesin jahit.
Pelatihan tersebut di Dinsos Jatim, yang dilaksanakan oleh Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Sosial Bina Remaja (UPT PSBR) Jombang. Intan berhasil mengharumkan nama Bondowoso dengan menjadi peserta terbaik dari kategori jurusan tata busana.
Di sisi lain, kondisi ekonomi Intan Yulia Asy'ari bisa dikatakan menengah ke bawah. Ditambah, dia hanya hidup bersama sang ibu. Sebab, ayah kandung Intan sudah lama meninggal dunia.
Situasi itu cukup berat bagi seorang perempuan untuk mendapatkan jenjang pendidikan menengah seperti Intan. Karenanya, sejak lulus SMK, pada tahun 2020 dia memilih untuk bekerja pada sebuah usaha jahit di Bondowoso.
Itu menjadi cikal bakal Intan mengenal dunia menjahit. Awalnya, Intan tidak begitu yakin bakal bertahan lama dengan pekerjaan menjahit. Sebab, dalam benaknya menjahit butuh keuletan. Sementara, karakter itu belum dia miliki.
"Saya ini orangnya tidak telaten. Di benak saya, sepertinya tidak mungkin jadi penjahit," katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Ijen.
Hanya tekad dan kegigihan yang dimiliki Intan waktu itu. Dia pun memberanikan diri untuk mengikuti pelatihan tata busana di luar kota.
Meskipun tidak mempunyai dasar yang kuat, namun keinginan Intan yang begitu tinggi berhasil mengantarkan dia menjadi peserta terbaik. Serta memperoleh penghargaan dan bantuan mesin jahit.
"Di pelatihan saya dikarantina selama kurang lebih enam bulan. Setiap hari, kegiatan kami dipantau, bahkan perkembangan kami juga dikontrol setiap hari," terang perempuan lulusan SMK Nurul Hidayat, Koncer Kidul, tersebut.
Saat ini, tidak ada hal lain selain bersyukur. Menurutnya, setelah dari pelatihan tersebut, dia berani membuka usaha sendiri. Kini, bukan hanya menerima jahitan pakaian atas, seluruh jenis pakaian bisa dia kerjakan.
Bahkan, dengan keahliannya, dia bisa menyelesaikan jahitan lima baju dalam waktu kurang dari dua jam.
"Kalau kemeja kurang dari dua jam sudah bisa lima. Beda kalau banyak kombinasinya. Itu butuh waktu lebih lama, karena masih potong kain lagi," tutur perempuan kelahiran 2001 tersebut.
Berkaitan dengan itu, prestasi dan kegigihan Intan juga mendapat dukungan dari Kepala Dinsos P3AKB Anisatul Hamidah. Dia menyampaikan, bakal memberikan peluang bagi Intan untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Sebab, potensi yang dimiliki perlu dikembangkan.
"Insyaallah, nanti bakal kami kawal agar dia mau melanjutkan kuliah. Kami juga meminta dukungan kepada pihak keluarga maupun guru-gurunya," timpalnya. (c2/dwi)
Editor : Radar Digital