Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Grup Kesenian Belum Terdaftar di Dinas Pariwisata, Berdiri sejak 2004 Selalu Eksis Mengisi Hiburan Rakyat

Alvioniza • Senin, 26 Juni 2023 | 20:31 WIB

 

LATIHAN: Salah satu grup kesenian, Satria Muda, berlatih sebelum tampil dalam acara khitanan, di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso, akhir pekan kemarin.
LATIHAN: Salah satu grup kesenian, Satria Muda, berlatih sebelum tampil dalam acara khitanan, di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso, akhir pekan kemarin.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID- Meski saat ini masyarakat Indonesia sudah digempur dengan era digitalisasi, namun di Bondowoso masih banyak remaja yang peduli dengan seni dan budaya. Sayangnya, tak semua grup kesenian yang ada sekarang sudah terdaftar di Dinas Pariwisata, Budaya, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso.

Seperti grup kesenian asal Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso, ini. Ketua grup kesenian Satria Muda, Asmawi, menjelaskan, saat ini belum pihaknya memiliki kartu anggota dari Disparbudpora Bondowoso. Sebab, belum didatangi ataupun diundang oleh dinas tersebut. "Masih belum terdaftar sampai saat ini," ujarnya.

Padahal, Satria Muda sudah berdiri sejak tahun 2004. Artinya, grup tersebut sudah berdiri selama 20 tahunan. Selama ini, sudah banyak kisah mengharukan yang dialami setiap krunya. Mulai dari hanya mendapatkan puluhan ribu dari hasil tanggapan, hingga tak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Grup yang beranggotakan belasan orang itu didominasi kalangan remaja. Bahkan, masih ada pemain kenong yang berumur 10 tahun. Banyak dari mereka semangat menggeluti kegiatan sebagai pegiat kesenian. Sayangnya, belum ada wadah untuk bisa mengembangkan berbagai bakat yang mereka miliki.

Asmawi melanjutkan, setiap tanggapan, grupnya hanya dihargai tak lebih dari Rp 2 juta. Sebelum dibagikan kepada setiap anggota, uang tersebut harus dipotong beberapa biaya seperti sewa transportasi, sopir, dan sebagainya. "Paling mahal itu kami dibayar Rp 2 juta. Lalu, dibagi belasan orang sekaligus biaya yang lain," bebernya.

Dia berharap keluh kesahnya didengar oleh pemerintah. Sebab, jika terfasilitasi, maka setiap remaja bisa mengembangkan bakat dan minatnya dengan mudah. "Semoga kami bisa berada di bawah naungan pemerintah agar bisa eksis dan terus menghibur masyarakat," pungkasnya. (faq/c2/fid)

 

Editor : Alvioniza
#Bondosowo #seni budaya