Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Pengusaha Tape Mulai Bangkit, Setiap Hari Produksi Nyaris Capai 8 Kuintal

Maulana Ijal • Senin, 1 Mei 2023 | 17:20 WIB
TELATEN: Tossan, warga Kecamatan Binakal, saat memilah tape hasil produksi yang sudah siap jual. Kini, jumlah produksi mulai meningkat.
TELATEN: Tossan, warga Kecamatan Binakal, saat memilah tape hasil produksi yang sudah siap jual. Kini, jumlah produksi mulai meningkat.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Selama dua tahun lebih, keberadaan penyakit korona berdampak signifikan terhadap pengusaha tape di Bondowoso. Jumlah produksi pun menurun drastis, kala itu. Namun, kini sebagian dari mereka terus bangkit memberdayakan produksi. Salah satunya yang dilakukan oleh Tossan, warga asal Kecamatan Binakal yang mulai menaikkan produksi.

https://radarjember.jawapos.com/berita-bondowoso/30/04/2023/menikmati-goa-mustajab-arak-arak-little-jurassic-di-perbatasan-bondowoso/

Makanan yang menjadi oleh-oleh khas Bondowoso itu sempat mengalami penurunan produksi di tangan perajin tape. Termasuk di tangan Tossan, penurunannya pun cukup drastis, bisa sampai turun tiga kuintal dalam satu hari produksi. Hal itu disebabkan oleh maraknya penyakit korona, waktu itu. Sehingga, jumlah permintaan makanan tersebut semakin berkurang. Memasuki tahun 2022 hingga sekarang, para produsen tape mulai ada kenaikan produksi.

Kebangkitan itu juga dialami oleh Tossan. Pria berusia 45 tahun itu akhirnya kembali bersemangat memproduksi tape setiap harinya. Satu hari, produksi tape di rumahnya bisa mencapai 8 kuintal. Sementara, jenis tape yang diproduksi yakni tape manis khas Bondowoso. "Alhamdulillah, sejak tahun lalu (2022, Red) permintaan mulai banyak lagi. Akhirnya kami bisa meningkatkan produksi setiap harinya," katanya.

Dia mengaku, hasil memproduksi tape tersebut menjadi penunjang utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal itu sudah dia tekuni selama puluhan tahun. Bahkan, saat kondisi pemasaran tape merosot, dia nyaris gulung tikar. Lantaran tidak dapat memutar penghasilan. “Sehari saya memproduksi tiga kuintal. Waktu itu sangat merosot sekali, sampai bingung mau pakai cara apa,” jelasnya.

Menurutnya, menurunnya daya beli karena pandemi korona juga dialami oleh banyak produsen tape. Namun demikian, pihaknya tetap maksimal dalam menjaga kualitas produksi. "Ini juga dialami yang lain. Jadi, yang terpenting bagi kami waktu itu hanya menjaga kualitas tape agar tetap manis dan tetap berkualitas," tandasnya.

Dia juga menyebut, bahan utama yang dia pakai ialah singkong kuning yang diambil dari Kecamatan Tamanan. Sebab, singkong tersebut dinilai memiliki kualitas yang baik. Sehingga hasil tape yang diproduksinya sesuai dengan yang diharapkan. Sementara, mayoritas titik pemasaran produk tape itu dialokasikan ke Pasar Tenggarang, kemudian pasar lain sekitar Bondowoso.

Dia berharap ke depan situasi tersebut terus membaik, sehingga produksi tetap bisa normal. Saat ini, dirinya hampir setiap hari melayani pemesan tape dengan jumlah yang cukup banyak. “Ya, tinggal didiamkan di tempat itu. Kalau ada yang beli, baru diangkat,” pungkasnya. (mun/c2/bud)

  Editor : Maulana Ijal
#UMKM #tape #Pemulihan Ekonomi