Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dilema Negeri Tape Minim Inovasi, Pasaran Rendah

Safitri • Senin, 17 April 2023 | 18:25 WIB
POTENSI LOKAL: Tenaga kerja pembuatan tengah mengolah singkong untuk dijadikan tape.
POTENSI LOKAL: Tenaga kerja pembuatan tengah mengolah singkong untuk dijadikan tape.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID - Sebelum ada kopi arabika, Bondowoso lebih dulu tersohor sebagai daerah penghasil tape terbaik. Tape singkong yang berwarna kuning tersebutlah yang membuat Bondowoso dikenal dengan sebutan Kota Tape. Para pedagang tidak ragu menjual tape di pinggir jalan kota. Bahkan, toko oleh-oleh daerah lainnya seperti Probolinggo juga menjajakan tape Bondowoso.

BACA JUGA : Kecelakaan Akibat Sopir Truk Salip Truk, Pengemudi Sepeda Motor Meninggal

Dari segi produksi, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, pada tahun 2021 produksi singkong di Bondowoso berhasil tembus 48, 200 ton. Sementara, pada tahun berikutnya 2022, produksinya naik 48.964 ton.

Salah seorang pedagang tape, Siti Anisah, mengaku, belum berani menyediakan banyak tape saat ini. Dia yang telah puluhan tahun berjualan tape merasakan kemerosotan permintaan tape. "Saya rasa-rasakan sekarang ini peminat tape itu mulai berkurang. Kalau dulu banyak peminatnya, sekarang tidak begitu,” tuturnya.

Anisa menjelaskan, problem tape bisa saja inovasi produk yang kurang. Bila dulu ada inovasi tape bakar, saat ini hampir minim inovasi yang bisa melejit seperti kehadiran tape bakar saat pertama kali dirilis. “Dulu banyak pembeli tape juga tanya tape bakarnya. Akhirnya tape bakar juga ikut laku keras,” ungkapnya.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Sigit Purnomo mengatakan, pengembangan produk makanan khas Bondowoso menjadi salah satu cara yang akan dilakukan oleh pemkab untuk menaikkan branding tape. "Sudah kami lakukan pengembangan produknya, nanti itu ada produk turunannya, sehingga nilai jual semakin bertambah," katanya.

Hal itu dilakukan melalui pelatihan kepada para produsen tape. Mereka difasilitasi untuk mengembangkan produk makanan yang berbahan dasar tape. "Kami lakukan pelatihan, nantinya tape itu menjadi prol tape, menjadi bugis tape, menjadi brownis tape, dan aneka makanan lainnya yang berasal dari tape," imbuhnya.

Selanjutnya, dia telah membentuk kawasan industri tape di sejumlah wilayah Bondowoso. Hal itu sekaligus memperkenalkan daerah dengan penghasil tape terbesar di Bumi Ki Ronggo itu. "Kami bangun di kawasan Kecamatan Wringin dan Kecamatan Pakem, itu sebagai sentra industri kecil tape," terangnya.

Dia juga membuka strategi pemasaran online melalui platform jual beli digital. Para pelaku usaha diberi pemahaman tentang teknik pemasaran digital. "Kami juga melatih mereka untuk memasarkan produknya secara online, dengan branding yang menarik," jelasnya.

Selanjutnya, dia juga tengah menggagas event-event tape di Bondowoso. Makanan khas ini akan kerap bersanding dengan kopi arabika khas Bondowoso. "Bertahap dulu, ya, kami juga tengah menggagas, melalui event, nantinya di meja-meja ada kopi arabika, kemudian tape," pungkasnya. (mun/c2) Editor : Safitri
#tape #Bondowoso