https://radarjember.jawapos.com/berita-bondowoso/19/02/2023/pesanggrahan-the-raung-sempat-terbengkalai-setelah-indonesia-merdeka/
Bangunan tersebut masih tetap tetap estetik dan menarik perhatian masyarakat. Sebab, secara arsitektur berbeda dengan bangunan warga sekitar. Maka tidak heran, jika banyak masyarakat yang berkunjung. Baik untuk beristirahat ataupun bermalam dan maupun sekedar swafoto saja.
Saat ini, bangunan tua ini memang dimanfaatkan sebagai tempat persinggahan atau semacam homestay. Di dalamnya terdapat sejumlah kamar yang disewakan. Untuk menuju Pesanggrahan The Raung setidaknya menempuk jarak 35 kilometer atau sekitar 45 menit dari pusat kota Bondowoso.
Bangunan peninggalan Belanda itu berdiri di lahan seluas satu hektar. Bagi warga sekitar, tempat itu dikenal dengan sebutan kamar bola. Istilah tersebut lazim digunakan sejak zaman Belanda. Karena, pada bagian bagian depan bangunannya berbentuk setengah lingkaran yang dapat digunakan sebagai ruang pertemuan. Kemudian bagian tengah, terdapat sejumlah kamar tidur. Serta bagian belakang yang diisi sejumlah ruangan, termasuk dapur, dan kamar mandi.
Sama seperti bangunan peninggalan Belanda lainnya, bangunan ini juga memiliki pondasi dasar cukup tinggi. Sekitar 1-2 meter di atas permukaan tanah. Sementara pintu dan jendela, juga lebih tinggi dan lebar dari pada pintu dan jendela pada umumnya. Bukan hanya itu, masing-masing kamar memiliki konsep yang selalu terhubung antara kamar satu dengan lainnya.
Sejarawan di Bondowoso, Tantri Raras, mengatakan, pada zaman Belanda, Pesanggrahan The Raung merupakan tempat peristirahatan atau persinggahan para penguasa kolonial. Sembari menikmati pemandangan alam yang tersedia, karena lokasinya di lereng Gunung Raung.
Ketika Belanda masuk ke Bondowoso, saat itu memang membangun sejumlah bangunan. Seperti Guest House Jampit dan lain sebagainya. Kemudian pada 1930 silam, bangunan The Raung dibangun. Ruangan bagian depan, pada zaman dahulu digunakan untuk pesta dan lain sebagainya. “Bangunan The Raung ini bersamaan dengan penanaman pohon pelangi yang ada tak jauh dari lokasi,” imbuhnya.
Bangunan itu, lanjutnya, kembali dimanfaatkan sebagai tempat persinggahan bagi para wisatawan. Setelah sebelumnya sempat vakum. Pesanggrahan The Raung, sudah masuk dalam bangunan cagar budaya. Oleh sebab itu, bentuknya tidak dapat diubah lagi. “Hanya diperbaiki bagian yang rusak. Tidak boleh diganti bentuknya,” tegasnya.
Lokasi The Raung juga dinilai strategis untuk dimanfaatkan sebagai tempat persinggahan. Mengingat lokasi jalur pendakian Gunung Raung via Bondowoso. Selain itu, ada pohon pelangi atau eucalyptus yang lokasi juga tidak jauh dari sana. Maka tidak heran, jika bangunan tersebut juga menjadi salah satu jujugan.
Bahkan, pada akhir pekan biasanya tempat ini sering dikunjungi wisatawan lokal, maupun warga sekitar. Meskipun hanya sebatas untuk berswafoto bersama keluarga. Pada halaman depan dan belakang, disediakan taman bermain, lengkap dengan wahana permainannya. (ham/dwi) Editor : Maulana Ijal