Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Rela Pakai Motor Ikuti Malam Puncak

Safitri • Selasa, 7 Februari 2023 | 19:18 WIB
UNIK: Nuryanto, salah satu warga nahdliyin dari Kecamatan Wonosari, Bondowoso, ketika bersiap untuk melakukan perjalanan ke Sidoarjo dengan sepeda motornya.
UNIK: Nuryanto, salah satu warga nahdliyin dari Kecamatan Wonosari, Bondowoso, ketika bersiap untuk melakukan perjalanan ke Sidoarjo dengan sepeda motornya.
WONOSARI, Radar Ijen - Sejumlah warga nahdliyin dari berbagai kabupaten/kota di Indonesia memadati Stadion Gelora Delta Sidoarjo, guna mengikuti berbagai macam kegiatan dalam rangka puncak peringatan Satu Abad NU. Untuk tiba di tempat tersebut banyak cara yang dapat digunakan, mulai dari menggunakan bus, kereta api, hingga pesawat dan kendaraan umum lainnya.

BACA JUGA : Galakkan Kerja Sama hingga Desa

Namun, tidak bagi Nuryanto, salah satu warga nahdliyin dari Kecamatan Wonosari. Dia rela menggunakan sepeda motor seorang diri menuju Sidoarjo. Hal itu dilakukan dengan tujuan berkhidmat kepada para pendiri organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu. Padahal, kebanyakan masyarakat lainnya menggunakan bus, truk, hingga mobil pribadi.

Nuryanto terlihat memasang dua bendera sekaligus di belakang motornya. Di antaranya bendera PCNU dan PC GP Ansor Bondowoso. Sebelum berangkat, terlebih dahulu dia berziarah ke makam pendiri atau ketua tanfidziyah pertama PCNU Bondowoso, Kiai Asy'ari, di Desa Wonosari. Sebelum akhirnya memulai perjalanan sepanjang kurang lebih 200 kilometer tersebut.

Niatnya untuk berangkat menggunakan sepeda motor, meski hanya sendirian, ternyata hanya karena ingin diakui sebagai santri para pendiri NU di Indonesia. Di antaranya KH Hasyim, Kiai Wahab Hasbullah, Kiai As'ad, dan kiai-kiai lainnya. “Makanya sebelum berangkat, saya sowan (ziarah, Red) ke asta untuk izin berkhidmat melalui jalur relawan," katanya.

Nuryanto juga mengaku selama perjalanannya juga menyempatkan diri untuk berziarah ke makam para kiai sepuh di sepanjang Jalur Pantura. Salah satunya makam Kiai Hasan Genggong, yang ada di Probolinggo. "Ini saya lakukan karena saya sadar bahwa di peringatan 2 Abad NU selanjutnya mungkin saya sudah tiada," tambahnya.

Nuryanto memang dikenal sebagai sosok yang pengabdiannya sangat luar biasa di PAC NU Wonosari. Sejak dia lulus PKP NU pada tahun 2019, dirinya selalu ada di berbagai kegiatan NU setempat dengan menjadi juru angkut perlengkapan dan tukang bersih-bersih. "Saat hendak diminta jadi pengurus, dia tidak mau. Dia cuma bilang, biarlah yang muda yang jadi pengurus inti. Saya cukup membantu melayani saja," pungkas Ketua LWPNU Bondowoso Ahmad Abrari. (ham/c2/bud) Editor : Safitri
#nu #Bondowoso