Bukti Peradaban Kuno Ada di Bondowoso

Safitri • Dipublikasikan Selasa, 17 Januari 2023 | 19:26 WIB
ESTETIS: Sejumlah anggota APFI Bondowoso memotret sejumlah benda cagar budaya di Desa Suco Lor, Kecamatan Maesan.
ESTETIS: Sejumlah anggota APFI Bondowoso memotret sejumlah benda cagar budaya di Desa Suco Lor, Kecamatan Maesan.
BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID - Gua Butha Sumber Canting yang berada di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, setidaknya telah ada sejak 1394 Masehi. Sebab, pada relief di dinding batu tersebut terdapat pahatan angka 1316 Saka.

BACA JUGA : Puluhan Rumah Warga di Perbatasan Jenggawah-Ajung Jember Terendam Banjir

Tulisan tersebut diperkirakan sebagai pertanda, bahwa gua itu dibuat pada tahun yang dimaksud. Ukuran Gua Butha Sumber Canting terbilang cukup besar. Mulut gua saja mencapai tiga meter dengan lebar lima meter. Berbentuk ruang memanjang dan mengecil ke dalam. Kedalamannya mencapai 17 meter dari muka gua.

Tantri Raras, Sekretaris Pengurus Harian Ijen Geopark Bondowoso, mengatakan, awalnya Gua Butha Sumber Canting diduga digunakan sebagai tempat meditasi atau mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Mengingat terdapat sejumlah lubang kecil di sekitar gua. Hal tersebut diprediksi digunakan untuk tempat lentera atau lilin saat ritual berlangsung.

Dia juga menuturkan, jika memang ingin dikembangkan, maka Gua Butha Sumber Canting lebih mengarah pada wisata minat khusus. Sebab, akses jalan masih sulit. “Kalau dari pusat kota, jaraknya mencapai 35 kilometer,” katanya.

Sementara itu, Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya pada Disparbudpora Bondowoso Heri Kusdarianto mengatakan, adanya angka tahun di sekitar mulut gua merupakan suatu keunikan. Sebab, hal tersebut merupakan tanda bahwa peradaban masyarakat di Bondowoso sudah ada sejak lama dan masih lestari.

Ternyata Gua Butha Sumber Canting sudah ada dalam catatan Belanda pada tahun 1890 silam. Tak heran jika tempat itu dikenal memiliki banyak sejarah. Bahkan, berdasarkan informasi dari juru pelihara (jupel) setempat, selain digunakan untuk meditasi, masyarakat juga memanfaatkan tempat itu untuk melakukan permainan ojung. “Apakah ada rentetan sejarahnya atau tidak, kami belum mengetahui secara pasti,” ujarnya.

Di sekitar Gua Butha Sumber Canting, lanjut Heri, juga banyak ditemukan benda-benda megalitikum. Hal itu dianggap dapat membuktikan bahwa meski Hindu-Budha sudah masuk, tradisi megalitikum masih berkembang. “Ini lebih nyata lagi, tempat bertapanya klasik. Di sebelahnya ada benda megalitikum,” pungkasnya. (ham/c2/dwi) Editor : Safitri
megalitikum Bondowoso