Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Sempat Gempa dan Naiknya Suhu Kawah, Status Kawah Ijen Naik Jadi Waspada

Safitri • Senin, 9 Januari 2023 | 20:13 WIB
WISATA UNGGULAN: Fenomena alam blue fire yang ada di Kawah Ijen. Tahun depan 2023 Ijen Geopark akan resmi masuk UGG.
WISATA UNGGULAN: Fenomena alam blue fire yang ada di Kawah Ijen. Tahun depan 2023 Ijen Geopark akan resmi masuk UGG.
IJEN, Radar IjenGunung Ijen atau disebut Kawah Ijen menunjukan peningkatan aktivitas vulkanis. Hal itu membuat Badan Geologi pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI menaikkan statusnya menjadi level II waspada. Walau tidak ada penutupan wisata, tapi mulai diberlakukan pembatasan wisatawan.

BACA JUGA : Kiai Terduga Mesum Siap Jalan Jongkok dan Telanjang Bila Terbukti

Naiknya status dari normal ke waspada tersebut dikeluarkan sejak 7 Januari kemarin. Sementara, jadwal pendakian Kawah Ijen mulai dibatasi. Dengan adanya aturan tersebut, wisatawan Kawah Ijen sementara ini tidak bisa menikmati fenomena alam blue fire.

Kasi Konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim Wilayah V Banyuwangi Purwantono menerangkan, kenaikan status waspada karena terjadi peningkatan aktivitas di Gunung Ijen. Berupa gempa lokal kecil dan peningkatan suhu air di kawah. Oleh karena itu, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, wisatawan dilarang turun ke kawah untuk melihat blue fire.

Menurutnya, BKSDA juga sudah menetapkan radius aman 1,5 kilometer dari Kawah Ijen. Kemudian, membatasi jam kunjung, dari biasanya buka pukul 02.00, kini dibuka pukul 04.00. Pemberlakuan tersebut untuk mempermudah pengawasan terhadap wisatawan yang hendak naik ke Gunung Ijen, karena kondisinya sudah terang. "Kami khawatir misalnya tiba-tiba keluar gas beracun atau mungkin getaran karena gempa setempat,” katanya.

Selain itu, potensi bahaya yang bisa ditimbulkan dari aktivitas vulkanis di gunung api Ijen pada saat ini adalah gas vulkanis konsentrasi tinggi di sekitar kawah. Gas tersebut berasal dari aktivitas solfatara atau belerang di dinding Kawah Ijen, serta difusi gas-gas vulkanis dari dalam kawah ke permukaan. "Erupsi freatik berupa semburan gas dari danau kawah. Erupsi freatik bisa terjadi tanpa didahului oleh peningkatan aktivitas baik visual maupun kegempaan," jelasnya.

Lebih lanjut, dia juga menegaskan kepada para pengunjung maupun masyarakat setempat untuk meningkatkan kewaspadaannya. Khususnya terhadap ancaman aliran gas vulkanis. Bahkan, jika tercium bau belerang yang menyengat, maka warga diminta untuk segera menggunakan masker. “Dalam kondisi darurat, gunakan kain basah untuk melindungi saluran pernapasan,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)



Air Danau Kawah Ijen Berubah Warna

Salah satu tanda peningkatan aktivitas di Gunung Ijen adalah air di kawah berubah warna dari hijau tosca menjadi keputih-putihan. Selain itu, juga berubahnya suhu air di bagian kawahnya. Suhunya saat ini mencapai 45,6 derajat Celsius. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan pengukuran pada Desember 2022 lalu. Selain itu, muncul pula gas di kawasan kawah. Oleh karena itu, pengunjung serta masyarakat setempat dilarang untuk menuruni bibir Kawah Ijen.

Perlu diketahui, berdasarkan data dari Badan Geologi Kementerian ESDM RI, erupsi Gunung Ijen sejak tahun 1900 berupa letusan-letusan freatik yang bersumber dari danau kawah. Erupsi freatik juga terjadi tahun 1993 dan menghasilkan asap berwarna hitam yang mencapai ketinggian 1.000 meter. Pada tahun 2011–2012 juga mengalami peningkatan aktivitas berupa kenaikan kegempaan dan suhu air danau kawah.

Pada tahun 2017 terjadi tiga kali semburan gas beracun. Begitu pula pada tahun 2018 yang sampai tiga kali ada semburan gas beracun. Peningkatan kegiatan terakhir terjadi pada 17 Januari 2020, berupa kenaikan jumlah gempa vulkanis dangkal.

Terjadi peningkatan aktivitas vulkanis yang ditandai dengan meningkatnya kejadian gempa embusan dan gempa vulkanis dangkal sejak bulan Juli 2022. Hal itu menunjukkan terjadinya peningkatan tekanan pada kedalaman dangkal sebagai akibat dari aktivitas hidrotermal Gunung Ijen. Sementara, peningkatan aktivitas di Kawah Ijen sering kali ditandai dengan perubahan warna air danau kawah dari hijau menjadi hijau keputih-putihan. Hal itu terjadi akibat naiknya endapan dari dasar danau ke permukaan oleh adanya tekanan gas yang kuat dari dasar danau kawah Ijen.

Hal itu juga membuat suhu air kawah Ijen akan meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan atau konsentrasi gas yang keluar dari dasar danau. Dalam kondisi tersebut, juga muncul gelembung-gelembung gas di permukaan air kawah.

Menanggapi adanya peningkatan status, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso Dadan Kurniawan menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Termasuk Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso, dalam rangka antisipasi hal yang tidak diinginkan. Selain itu, Tim Reaksi Cepat (TRC) juga masih disiagakan di sekitar lokasi.

TRC dari BPBD Bondowoso diminta untuk siap melakukan pertolongan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Selain itu, melakukan pengawasan terhadap penambang, warga, dan wisatawan yang berniat untuk turun ke bibir kawah. Sebab, untuk sementara waktu, turun ke kawah masih dilarang. Mengingat muncul gas beracun akibat peningkatan aktivitas Gunung Ijen. “Minimal tidak mendekati bibir kawah sejauh 1,5 kilometer,” katanya.

Selain itu, Dadan juga meminta kepada masyarakat yang berada di aliran Kali Pait untuk waspada. Sebab, pada peningkatan Gunung Ijen tahun 2018 yang terdapat semburan gas cukup besar juga diikuti oleh kejadian aliran gas menyusuri lembah di Sungai Banyu Pait atau Kali Pahit, hingga mencapai jarak lebih dari 7 kilometer. “Kalau tercium gas sulfur, segera gunakan masker,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

  Editor : Safitri
#Headline #Kawah Ijen #Bondowoso