BACA JUGA : Kaget Ada Bayi di Teras Rumah, Sepucuk Surat untuk Pemilik Rumah
Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, jumlah kasus DBD di Bondowoso dari tahun ke tahun masih terbilang cukup tinggi. Pada 2021 lalu, secara keseluruhan ada 153 kasus yang ditemukan. Tiga di antaranya meninggal dunia. Kemudian, hingga akhir November lalu, kurang lebih ada 404 kasus yang ditemukan, dengan empat kasus di antaranya menyebabkan kematian.
Kasi Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Bondowoso Goek Fitri Purwandari menjelaskan, jumlah kasus DBD paling banyak terjadi pada Januari lalu, mencapai 65 kasus dan satu meninggal. Kemudian, pada Agustus lalu juga terbilang cukup banyak. mencapai 23 kasus. "Sementara, kematian terbanyak terjadi pada Februari lalu, dengan dua kematian dari 21 kasus baru," katanya.
Jumlah tersebut terjadi di beberapa kecamatan. Paling banyak terjadi di Kecamatan Wringin, Tapen, dan Curahdami. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka daerah itu mengalami perbedaan. Seba, sebelumnya jumlah kasus DBD banyak ditemui di wilayah Cermee yang berbatasan dengan Situbondo.
Melihat tingginya angka kasus mematikan itu, Goek meminta kepada masyarakat untuk gemar hidup bersih dan sehat. Dengan tujuan memberantas sarang nyamuk. Bukan malah mengandalkan fogging. Sebab, langkah tersebut dianggap langkah terakhir dalam penanganan DBD. Sebab, meski ditemukan kasus, tapi tidak ada jenti, maka tidak dapat menularkan kepada yang lain. "Nyamuk dewasa itu kan ada keterbatasan hidupnya. Jadi gak lama dia," tegasnya.
Selain itu, dia juga menyarankan agar menguras tempat air, minimal sepekan sekali. Serta membuang sampah bekas bungkus makanan ke tempatnya. Sebab, ternyata benda tersebut juga menjadi sarang nyamuk. "Kalau ada jentiknya, kemudian ada pasiennya, maka bisa jadi kasusnya mengalami peningkatan lagi," pungkasnya. (ham/c2/bud) Editor : Safitri