BACA JUGA : PMK Terkendali, Bali Siap Songsong Perhelatan G-20
Pasar hewan terpadu yang cukup lama mangkrak dan tidak difungsikan itu menjadi tempat relokasi pedagang pasar ikan pindang di Kotakulon. Para pedagang ikan itu pindah sementara, karena pasar di Kotakulon dilakukan renovasi.
Kepala UPTD Pasar pada Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Didik Muriyanto mengatakan, pemindahan pedagang pasar ikan pindang sudah berjalan dua bulan dan bersifat sementara. Hal itu karena pasar pindang Kotakulon dilakukan renovasi.
Renovasi pasar ikan pindang terbesar se-eks Karesidenan Besuki itu karena butuh perbaikan. Terutama tentang drainase. Sebab, saat hujan turun akan muncul genangan air. Selain itu, pembuangan air juga mengarah ke permukiman penduduk.
Perbaikan di pasar ikan pindang, lanjutnya, tidak membutuhkan waktu lama. Dirinya menambahkan, kemungkinan besar pada awal tahun 2023 para penjual ikan akan kembali berjualan di lokasi semula, Kotakulon. “Bulan Januari ke depan ditargetkan perbaikan pasar akan selesai. Sehingga para pedagang bisa kembali melakukan jual beli ikan di Kelurahan Kotakulon,” terangnya.
Menurut Didik, meski dipindah ke Pasar Hewan Terpadu, tapi aturan penarikan retribusi tetap berlaku setiap harinya. Biaya retribusinya tetap sama dengan sebelumnya. Tidak ada pengurangan maupun penambahan. "Tetap kami tarik retribusi setiap harinya," terangnya.
Khoiriyah, pedagang ikan pindang, mengatakan, berjualan di Pasar Hewan Terpadu tetap ada biaya retribusi setiap harinya. Namun, terdapat kekurangan fasilitas saat berjualan di pasar hewan yang berada di Desa Selolembu itu. Antara lain kurangnya fasilitas listrik dan akses air bersih yang sangat sulit. "Listriknya di sini terbatas. Air juga kesulitan," pungkasnya. (aln/c2/dwi)
Editor : Safitri