BACA JUGA : Pasca Ambruknya SDN Gugut 02, Wali Murid Kompak Robohkan Ruang Kelas
Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda Sub Koordinator Kerawanan Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bondowoso Nenni Wahyu Hidayati mengatakan, berdasarkan aspek ketersediaan pangan di sebuah wilayah. Maka kecamatan Ijen merupakan kawasan paling rawan. Karena tidak memiliki area persawahan.
Nenni juga menyebut, sudah melakukan intervensi di wilayah yang terindikasi rawan pangan. Mengingat hal itu tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan. Tapi juga dipengaruhi oleh beberapa aspek. Meski begitu, tidak disebutkan secara rinci apa saja faktor tersebut.
Selain itu, dia juga menjelaskan untuk dikatakan sebagai wilayah rawan pangan. Harus dilihat berdasarkan beberapa aspek. Diantaranya, pemanfaatan pangan, kondisi kesehatan balita yang meliputi gizi, berat badan dan lain sebagainya. Sementara untuk indikator rawan pangan, meliputi luas lahan pertanian, perluas lahan wilayah.
Terdapat enam indikator penyebab daerah rawan pangan, diantaranya luas baku lahan pertanian, sarana prasarana penyedia pangan, penduduk tidak sejahtera, akses penghubung, air bersih, dan tenaga kesehatan. "Akses air bersih juga berpengaruh. Botolinggo itu daerah kekeringan, Cermee bagian atas juga masih susah aksesnya," terangnya.
Lebih lanjut, Nenni juga mengungkapkan akses sarana prasarana juga dianggap penting, dalam menjaga agar masyarakat tidak terdampak rawan pangan. Termasuk tingkat kesejahteraan penduduk di masing-masing wilayah yang berpengaruh terhadap daya beli masyarakat juga berpengaruh terhadap kerawanan pangan. "Bahkan, jumlah toko atau warung sembako serta keberadaan pasar juga mempengaruhinya," imbuhnya.
Saat ini Pemkab Bondowoso, juga masih terus mendorong, agar memanfaatkan pekarangan lestari. Selain itu, mereka juga kerap memberikan bantuan bibit. Mulai dari bibit sayuran hingga bibit ternak. Seperti ikan, ayam. dan bebek. (ham/c1dwi) Editor : Safitri