BACA JUGA : Akun BRImo Dibobol Rp 104,8 Juta Raib, BRI Anggap Kesalahan Nasabah
Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, batu tersebut sepintas seperti batu kali pada umumnya. Namun, perbedaannya terletak pada warna yang lebih hitam dan ada bagian yang datar. Hery Kusdaryanto, Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso mengatakan, di Desa Jebung Lor memang belum pernah ditemukan batu serupa. Terlebih lagi batu dakon pada umumnya ditemukan berukuran besar.
Sementara batu, yang baru ditemukan tersebut ukurannya cukup kecil. Informasinya, lanjut Hery, pada zaman terdahulu digunakan untuk memantau musim tanam dan perkembangan cuaca. Bahkan dalam beberapa tempat di luar daerah, benda serupa juga banyak digunakan untuk sarana permainan.
Hery mengatakan, batu dakon sebenarnya tersebar pada sejumlah wilayah. Namun, bentuknya besar, sehingga kesulitan untuk dipindahkan. Oleh sebab itu, ketika ada batu yang cukup kecil serta memiliki keunikan, pihaknya langsung melakukan pemindahan ke PIMB. "Meski kecil tapi berat itu," katanya.
Salah satu keunikan dari batu tersebut adalah memiliki lubang yang sejajar. Sementara sejumlah batu dakon yang ditemukan sebelumnya tidak memiliki lubang sejajar. Hanya lubang bulat di beberapa bagian. Benda tersebut, menurutnya, dapat digunakan sebagai penanggalan atau kalender, pengingat awal dan akhir bercocok tanam. "Itu yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain," imbuhnya.
PIMB memang menyediakan berbagai jenis benda megalitikum. Mulai dari kubur batu, menhir, patung, dan sebagainya. Namun, untuk batu dakon di penemuan ini merupakan kali pertama yang dijadikan sebagai contoh di PIMB. Sehingga, bisa menjadi bahan edukasi kepada guru, pelajar, mahasiswa, ataupun masyarakat umum yang berkunjung ke PIMB.
Lebih lanjut, Hery juga menyebut, saat ini ada 1.243 benda megalitikum yang masih terus dipelihara dan dilestarikan. Kebanyakan benda tersebut masih berada di tempat aslinya. Sementara, sebagian lainnya sudah berada di PIMB. "Di sana (PIMB, Red) hanya perwakilan-perwakilan. Kemudian, dampak dari industri yang kita bawa," pungkasnya. (ham/c2/dwi)
Editor : Safitri