Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Penemuan Baru Batu Megalitikum, Batu Dakon Digotong ke PIMB

Safitri • Kamis, 13 Oktober 2022 | 19:44 WIB
GOTONG ROYONG: Sejumlah juru pelihara dan pegawai Disparbudpora Bondowoso ketika membawa benda megalitikum di tepi sungai.
GOTONG ROYONG: Sejumlah juru pelihara dan pegawai Disparbudpora Bondowoso ketika membawa benda megalitikum di tepi sungai.
JEBUNG LOR, Radar Ijen - Juru pelihara (jupel) di Bondowoso kembali menemukan benda megalitikum di Desa Jebung Lor, Kecamatan Tlogosari. Benda berjenis batu dakon yang dipercaya sebagai penanda musim tanam itu dievakuasi dari tepi sungai dan diletakkan di Pusat Informasi Megalitikum (PIM), kemarin (11/10).

BACA JUGA : Akun BRImo Dibobol Rp 104,8 Juta Raib, BRI Anggap Kesalahan Nasabah

Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, batu tersebut sepintas seperti batu kali pada umumnya. Namun, perbedaannya terletak pada warna yang lebih hitam dan ada bagian yang datar. Hery Kusdaryanto, Subkoordinator Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso mengatakan, di Desa Jebung Lor memang belum pernah ditemukan batu serupa. Terlebih lagi batu dakon pada umumnya ditemukan berukuran besar.

Sementara batu, yang baru ditemukan tersebut ukurannya cukup kecil. Informasinya, lanjut Hery, pada zaman terdahulu digunakan untuk memantau musim tanam dan perkembangan cuaca. Bahkan dalam beberapa tempat di luar daerah, benda serupa juga banyak digunakan untuk sarana permainan.

Hery mengatakan, batu dakon sebenarnya tersebar pada sejumlah wilayah. Namun, bentuknya besar, sehingga kesulitan untuk dipindahkan. Oleh sebab itu, ketika ada batu yang cukup kecil serta memiliki keunikan, pihaknya langsung melakukan pemindahan ke PIMB. "Meski kecil tapi berat itu," katanya.

Salah satu keunikan dari batu tersebut adalah memiliki lubang yang sejajar. Sementara sejumlah batu dakon yang ditemukan sebelumnya tidak memiliki lubang sejajar. Hanya lubang bulat di beberapa bagian. Benda tersebut, menurutnya, dapat digunakan sebagai penanggalan atau kalender, pengingat awal dan akhir bercocok tanam. "Itu yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain," imbuhnya.

PIMB memang menyediakan berbagai jenis benda megalitikum. Mulai dari kubur batu, menhir, patung, dan sebagainya. Namun, untuk batu dakon di penemuan ini merupakan kali pertama yang dijadikan sebagai contoh di PIMB. Sehingga, bisa menjadi bahan edukasi kepada guru, pelajar, mahasiswa, ataupun masyarakat umum yang berkunjung ke PIMB.

Lebih lanjut, Hery juga menyebut, saat ini ada 1.243 benda megalitikum yang masih terus dipelihara dan dilestarikan. Kebanyakan benda tersebut masih berada di tempat aslinya. Sementara, sebagian lainnya sudah berada di PIMB. "Di sana (PIMB, Red) hanya perwakilan-perwakilan. Kemudian, dampak dari industri yang kita bawa," pungkasnya. (ham/c2/dwi)

  Editor : Safitri
#Bondowoso