BACA JUGA : Tak Lagi Menjabat jadi Kapolda Jatim, Irjen Nico Afinta Dimutasi
Pemuda asal Desa Locare, Kecamatan Curahdami, Bondowoso, Moh Rivanto, mengatakan, saat ini pasar itu hanya dipakai untuk rumah potong hewan (RPH). Di lokasi, beberapa bangunan, baik terbuka ataupun tertutup, semakin tidak terawat. Beberapa fasilitas menjadi kumuh, serta lantai semen juga berlumut. "Banyak fasilitas rusak tidak terpakai," kata Rivanto.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Bondowoso Didik Muriyanto menyatakan, pihaknya akan mengisi pasar tersebut dengan berbagai varian perlombaan. Namun, hingga kini belum ada satu lomba pun. "Kami sudah koordinasi dengan beberapa komunitas, seperti burung dan bonsai untuk mengadakan event di sana," terangnya kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (10/10).
Menurutnya, upaya tersebut untuk menghidupkan kembali aktivitas di pasar hewan terpadu. Sejumlah komunitas sudah dikomunikasikan. Namun, fakta di lapangan hingga kini belum ada tindak lanjut apa pun. "Kalau di sana (Pasar Hewan Selolembu, Red) memang pas dijadikan tempat event atau perlombaan," urainya.
Menurutnya, hal itu untuk menarik minat pengunjung serta jual beli hewan di lokasi itu. Namun, tak hanya event burung, akan diinisiasi untuk pengadaan event bonsai. "Pasar hewan di Selolembu juga diinginkan menjadi tempat event bonsai. Kami juga sudah anggarkan itu," urainya.
Sementara itu, pencinta burung love bird asal Desa Pejaten, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, Ahmad Noer Ahbrami, mengatakan, lokasi Pasar Hewan Terpadu Selolembu tidak cocok untuk lomba. Menurutnya, lokasinya terlalu jauh dari jalan raya. "Terlalu jauh dari jalan raya. Apalagi, di pasar itu masih belum ada perawatan apa pun," ucapnya.
Menurutnya, jika ada inisiatif untuk pengadaan gantangan burung di Bondowoso sangat bagus. Bahkan, para pencinta semua jenis burung di Bondowoso bisa mendukung. Namun, perlu tempat yang bagus sebagai lokasi. Pihaknya membandingkan dengan gantangan yang berada di belakang Pujasera Kota Kulon. "Di sana dekat dengan jalan raya. Posisinya di belakang pujasera dan pengunjung selalu banyak," ungkapnya.
Ahmad menambahkan, jika hal tersebut betul-betul dijadikan sebagai lokasi gantangan burung, tidak akan menjamin banyaknya pengunjung. “Para penjual sapi saja tidak nyaman di lokasi itu. Karena tempatnya tidak strategis. Apalagi dijadikan tempat kontes burung," pungkasnya. (aln/c2/dwi)
Editor : Safitri