BACA JUGA : BBM Naik dan Pupuk Sulit, Dobel Uppercut yang Bikin Petani di Jember KO
Belum diketahui secara pasti apa penyebabnya para siswa yang mendadak sakit bersamaan. Mereka juga memiliki gejala yang sama, mulai dari batuk, pilek, hingga demam tinggi. Sebagian dari mereka harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Ada pula yang hanya di rawat di rumahnya.
Rizki Ardian, salah seorang wali murid SMA 2 Bondowoso, menyampaikan, anaknya mulai mengalami gejala demam, batuk, dan pusing. Menurutnya, setelah pulang dari sekolah anaknya mengaku tidak enak badan, sejak Senin (12/9) lalu. Karena tidak kunjung membaik, dia kemudian membawanya ke puskesmas terdekat pada Rabu (14/9). "Hingga sekarang masih rawat inap di puskesmas," paparnya.
Ardian menuturkan, di puskesmas tersebut, ada dua siswa SMAN 2 Bondowoso yang dirawat. Salah satu di antaranya sempat pingsan di sekolahnya. Menurutnya, siswa yang sakit itu karena kelelahan. Sebab, kegiatan di sekolah itu sangat padat. Belum lagi cuaca atau musim saat ini sering berubah. "Rata-rata yang sakit siswa kelas X. Mungkin tubuh siswa baru masih beradaptasi dengan kegiatan sekolah. Juga belum bisa dipastikan penyebab pastinya," imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMA 2 Bondowoso Jarimin membenarkan, terdapat ratusan siswanya yang mengalami sakit secara bersamaan. Tak tanggung-tanggung, jumlah siswa yang sakit menurutnya mencapai 10 persen dari jumlah siswa keseluruhan. Sekolah satu ini memang memiliki siswa cukup banyak. Mencapai seribu lebih. Karenanya, bila ada 1.000 siswa, maka 10 persennya adalah 100 siswa yang sakit.
Melihat gejala yang terjadi pada siswa yang sakit, rata-rata memiliki gejala yang sama, yaitu batuk, pilek, dan demam. Pihaknya menduga hal itu disebabkan efek pancaroba. Terlebih saat ini cuaca pada siang hari sangat panas. Sementara pada malam hari cuaca sangat dingin. "Yang sakit di rumah masing-masing. Ada juga yang panasnya tinggi oleh keluarganya dibawa ke rumah sakit," katanya.
Akibat terdapat ratusan siswa yang sakit, pembelajaran dilakukan sebanyak 50 persen dari kapasitas. Hal ini akan berlaku hingga 20 September mendatang. Masing-masing kelas jumlah siswa yang masuk cukup variatif. Ada 90 persen, 50 persen, dan 10 persen. Pihaknya juga mengaku sudah melakukan sterilisasi setiap ruangan di sekolah tersebut, termasuk ruang kelas. "Jadi, seluruh ruang disemprot disinfektan," pungkasnya. (c2/dwi)
Editor : Safitri