BACA JUGA : Gerindra Beri Sinyal Bupati Jember untuk 2024?
Namun, ada yang miris dari stadion tersebut, yakni kondisi rumputnya yang mulai memprihatinkan. Jika biasanya rumput yang terawat akan berwarna hijau, tidak dengan tempat itu. Hampir seluruh rumputnya berwarna cokelat, lengkap dengan kerikil di dalamnya. Tapi, hal itu bukan karena rumputnya yang memang berwarna cokelat, melainkan tidak ada perawatan, tak disiram.
Subangkit Adiputra, Ketua Askab PSSI Bondowoso, mengatakan, jika mengaca pada standar sepak bola, maka kondisi lapangan di Stadion Magenda masih sangat jauh dari kata standar. Mengingat kondisi tanah yang masih disertai kerikil dan rumputnya yang kurang memadai. Sebab, di beberapa bagian terlihat rumput sudah mati dan mengering. "Lapangannya dari saya junior sampai sekarang masih sama saja," katanya.
Oleh sebab itu, selain pemenuhan fasilitas pendukung lainnya, pria yang akrab disapa Bangkit itu menilai rumput dan kondisi tanah merupakan hal yang perlu diperhatikan. Sebab, panjang dan lebarnya lapangan dianggap sudah memenuhi standar yang dibutuhkan. Hal itu karena menyambut digelarnya Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim yang mempertandingkan cabang olahraga panahan pada Juni lalu.
Sementara itu, Marsuki, Ketua Umum Persebo Muda Bondowoso, menyayangkan kondisi lapangan di Stadion Magenda. Lantaran kondisinya saat ini, anak asuhnya tidak dapat menggelar laga uji coba persahabatan melawan tim luar kota. Sebab, banyak pemain yang menolak untuk bertanding, mengingat kondisinya yang belum memadai. "Terbaru itu, Deltras tidak mau main di Bondowoso. Lagi-lagi karena lapangannya," imbuhnya.
Anton Wahyudi, Pelatih Persebo Muda Bondowoso, berharap dapat mendatangkan tim dari luar daerah ke Bumi Ki Ronggo untuk menjalani laga uji coba. Tujuannya agar masyarakat bisa menyaksikan langsung tim kebanggaannya bertanding. Namun, hal itu dirasa berat, mengingat kondisi stadion saat ini. "Selama ini kami tidak pernah uji coba di homem di Stadion Magenda. Bagaimana masyarakat mau datang ke stadion," pungkasnya. (c2/dwi)
Lebih Cocok Jadi Stadion Tingkat Kecamatan
Stadion Magenda menjadi satu-satunya stadion milik Bondowoso. Bahkan, bisa dikatakan stadion terburuk di antara stadion-stadion lain di seluruh Jatim. Dibandingkan dengan daerah tentangganya saja, yaitu Jember, Situbondo, dan Banyuwangi, sangat jauh.
Bahkan, Stadion Magenda bisa dikatakan stadion yang telanjang alias tidak punya atap di tribunnya. Adanya tribun dari beton juga terbilang baru. Baru 2017 lalu direnovasi. Sebelum tahun 2017, tribun Stadion Magenda terbuat dari kayu.
Kondisi Stadion Magenda yang jauh dari kata layak dirasakan oleh tim kesayangan masyarakat Bondowoso, Persebo. Pada 2012, Persebo sudah masuk ke divisi utama atau kasta kedua Liga Indonesia yang sekarang bernama Liga 2. Sepanjang masuk ke divisi utama, Persebo tidak pernah sekalipun pulang ke markasnya sendiri.
Marsuki, Ketua Umum Persebo Muda Bondowoso, menceritakan, pada 2012 lalu, Persebo sudah masuk ke divisi utama. Namun, karena kondisi Stadion Magenda, pihaknya tidak dapat menggelar laga home di Bondowoso. Hal itu membuat pihaknya harus menggelar laga home di luar daerah. "Jadi, saya pinjam stadion, waktu itu di stadion Sumenep," bebernya.
Sementara itu, Subangkit, anggota DPRD Bondowoso, menyampaikan, tribun dirasa perlu ditambahkan atap, sehingga para penonton tidak kepanasan. Kemudian, ruang ganti untuk pemain juga memerlukan sedikit sentuhan, karena masih cukup panas ketika diisi banyak orang. Sebelumnya, bagian tersebut telah direnovasi menjadi lebih baik.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Bondowoso Mulyadi mengatakan, pada tahun ini sudah banyak fasilitas di stadion yang dilakukan perbaikan. Utamanya saat akan menyambut pergelaran olahraga akbar tingkat provinsi, Porprov Jatim.
Rencananya, Stadion Magenda akan dikembangkan menjadi sport center. Jadi, tidak hanya fokus pada sepak bola saja, sejumlah olahraga lainnya juga dapat dilakukan di stadion. Oleh sebab itu, selain kegiatan yang berhubungan dengan olahraga dilarang dilaksanakan. "Bisa merusak sarana dan fasilitas yang ada soalnya. Peruntukannya hanya olahraga," imbuhnya.
Dikonfirmasi terkait kondisi lapangan yang memprihatinkan, Mulyadi menegaskan, sudah mulai melakukan pembenahan. Walaupun hal itu tidak dapat dilakukan secara besar-besaran. Mengingat kondisi keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Pemkab Bondowoso. Salah satu perawatan yang dilakukan adalah memangkas rumput liar yang tumbuh dengan bebas. "Dulu seperti alas (hutan, Red),” terangnya.
Bahkan, dalam jangka panjang, pihaknya berencana akan mengganti rumput yang dianggap sudah tidak layak. Tepatnya setelah sarana dan fasilitas yang ada terpenuhi dengan baik. Menurutnya, jika sarana yang lain belum selesai, kemudian rumputnya sudah diganti, maka dapat membuat lapangan atau rumputnya rusak kembali. "Hilir mudik kendaraan pengangkut material tentu akan merusak lapangan," tegasnya.
Perawatan objek vital berupa lapangan sepak bola akan menjadi salah satu usulan anggaran pada Perubahan APBD beberapa waktu mendatang. Sebab, tentu untuk melakukan pembenahan dan perawatan, termasuk penyiraman rutin agar rumput tumbuh dengan baik, membutuhkan biaya yang tidak murah. (ham/c2/dwi) Editor : Safitri