Menuju Kafe Kala Senja dari Alun-alun Bondowoso setidaknya membutuhkan waktu 50 menit dengan jarak sekitar 27 kilometer. Lokasi wisata berbalut suasana perdesaan itu satu arah dengan Kawah Ijen. Bila dari Pasar Sukosari untuk ke Ijen lurus saja, tapi untuk ke Kafe Kala Senja belok kanan.
https://radarjember.jawapos.com/berita-bondowoso/17/07/2022/bondowoso-masuk-50-wisata-desa-terbaik-nasional/
Sebelum dibuka secara resmi pada 18 April 2021 lalu saja, sudah banyak pengunjung yang ingin menikmati suasana pedesaan dan melihat senja serta menikmati kuliner yang disediakan. Wahana satu ini, sangat cocok dijadikan sebagai tempat mengabadikan momen. Baik bersama teman, keluarga maupun pasangan.
Mengusung konsep kafe kekinian dengan tempat duduk unik, yakni kursi bantal beralaskan rumput sintetis, dapat membuat pengunjung semakin menikmati suasana alam sawah pedesaan sembari melihat senja saat sore harinya. Waktu yang pas jika ingin menikmati senja mulai pukul 16.00 hingga 17.20.
M Fadil Susanto, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Agung menjelaskan, adanya Kafe Tirta Agung karena pihaknya ingin memberikan suasana berbeda di Sumber Wringin. Bahkan, ini menjadi kafe pertama yang menyajikan konsep alami dengan pesona sawah serta momen senja ketika sore hari di Bondowoso. “Memang kalau sore hari, senja matahari bisa kita lihat. Akhirnya kami putuskan memberi nama Kala Senja. Sensasi ngopi di pinggir sawah,” katanya.
Realisasi Kala Senja pun mendapat dukungan dari Kementerian Desa (Kemendes). Sebab, Desa Wisata Tirta Agung menjadi salah satu desa wisata yang dipercaya mendapatkan bantuan dari program Klinik BUMDes. Hanya empat desa se-Jawa Timur yang mendapatkan program Klinik BUMDes. Salah satunya Tirta Agung. “Kami mendapatkan Klinik BUMDes. Mendapat bantuan dana dari CSR," imbuhnya.
Salah satu pengunjung, Ari Pangestu, mengaku cukup berkesan ketika mengunjungi Kala Senja. Bahkan, meskipun dirinya baru pertama kali berkunjung. Terlebih di Bondowoso memang jarang sekali satu wisata yang mampu menawarkan beberapa wahana menarik sekaligus. “Sangat bagus sebuah desa wisata punya spot kafe milenial yang tetap bisa menawarkan pesona perdesaannya,” pungkasnya.
Jurnalis: Ilham Wahyudi
Editor: Dwi Siswanto Editor : Maulana Ijal