BACA JUGA : Terimakasih Lumajang, Sampai Jumpa di Porprov VIII
Kepala Bulog Subdivre Bondowoso Ade Saputra menganggap kualitas beras hasil panen petani belum memenuhi kualifikasi. Kondisi itu menjadi kendala pemenuhan target.
Ade yang baru sebulan menjabat Kepala Bulog Bondowoso mengaku, peranan dalam penyediaan beras Bulog tersebut menaungi dua kabupaten. Yakni Bondowoso dan Situbondo. “Baru satu bulan, capaiannya sudah 10 persen,” ungkapnya.
Untuk mencapai target 12 ribu ton, dia menunggu hasil kedua panen padi. Pasalnya, serapan padi yang dibeli masih banyak yang tidak memenuhi kualifikasi. Kualifikasi yang dimaksud sudah diatur dalam Permendagri Nomor 22 Tahun 2019 tentang Prosedur dan Mekanisme Penyaluran Cadangan Beras. “Hasil panen petani masih banyak yang belum memenuhi kualifikasi,” terangnya.
Tahun ini, penyerapan beras dilakukan pada hasil panen padi para petani. Karena itu, masih ada beberapa penghambat untuk memaksimalkan capaian dari target tersebut. “Bisa jadi gagal saat panennya, bisa pula gagal saat penggilingan,” ucapnya.
Ade menyatakan, beberapa pusat penggilingan beras di Bondowoso belum modern. Sehingga berdampak pada kualitas hasil gilingan beras yang belum maksimal. Bisa jadi, beras patah saat penggilingan tersebut, sehingga tidak bisa dibeli. “Yang sudah memenuhi kualifikasi dari penggilingan di Grujugan dan Tamanan,” tambahnya.
Kendati demikian, dirinya tidak akan melakukan penyerapan beras hingga luar daerah. Hanya berharap panen kedua bisa menghasilkan padi yang bagus dan berkualitas tinggi. “Kalau keluar daerah terlalu jauh, sementara fokusnya di dalam daerah dulu,” bebernya.
Dari 12 ribu ton beras Bulog yang direncanakan, penyediaan di Bondowoso dan Situbondo masing-masing 6 ribu ton. “Dalam tahun ini 12 ribu ton. Nanti dibagi dua, antara lain Bondowoso dan Situbondo,” pungkasnya. (mg5/c2/fid) Editor : Safitri