BACA JUGA : Emas Pertama Diraih Cabor Tenis
Kepala BPJS Ketenagakerjaan Hadi Santoso menyampaikan, dari beberapa cabor di Bondowoso, hanya delapan yang terdaftar. Menurutnya, dari jumlah tersebut, rata-rata jenis olahraga dengan tingkat risiko tinggi. “Tidak hanya saat pertandingan saja, tetapi saat latihan atau perjalanan menuju latihan dan pertandingan juga memiliki risiko tersendiri,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin, (29/6).
Pria asal Surabaya itu mengatakan, delapan cabor yang terdaftar sebagai keanggotaan itu antara lain pencak silat, taekwondo, tarung drajat, karate, tinju, balap sepeda, panjat tebing, dan paralayang. Delapan cabor itu semuanya memiliki risiko besar saat latihan dan pertandingan. “Hanya cabor sepak bola yang belum terdaftar,” ucapnya.
Hadi mengatakan, sudah dua kali ada pengalaman atlet cabor bola voli yang kecelakaan saat bermain, beberapa tahun lalu. Menurutnya, atlet jatuh sakit karena patah tulang dan berakibat pada gangguan penglihatan. “Karena tidak terdaftar pada BPJS Ketenagakerjaan, akhirnya memakai biaya sendiri. Beruntung masih bisa diatasi,” ungkapnya.
Dirinya merasa saat ini BPJS Ketenagakerjaan menjadi bagian penting untuk menjamin risiko bagi para atlet di setiap cabor. Menurutnya, risiko tidak hanya datang saat dalam pertandingan, di perjalanan pun risiko bisa saja terjadi. “Maka perlu ada jaminan sebagai tanggung jawab bagi mereka saat ada risiko,” ucapnya.
Selain itu, dirinya mengutarakan, tak hanya atlet pada cabor berisiko tinggi yang perlu terdaftar kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Namun, juga pada atlet cabor lainnya untuk memberikan jaminan sosial. Menurutnya, hal itu untuk mengantisipasi risiko yang dialami setiap atlet. “Untuk mengantisipasi risiko di lapangan,” tambahnya. (mg5/c2/fid) Editor : Safitri