BACA JUGA : Oktober, Seoul Fashion Week Diadakan secara Langsung
Jalur kereta penghubung Jember–Panarukan itu sering kali dilakukan peninjauan oleh KAI pusat. Peninjauan tersebut berupa pengukuran serta verifikasi alat-alat yang masih tersusun rapi di kantor stasiun. Jika stasiun itu aktif kembali, maka perputaran ekonomi di sekeliling stasiun akan membaik.
Kepala Stasiun (KS) Bondowoso Sugeng Adi Wiyono membenarkan hal tersebut. Menurutnya, saat ini stasiun Bondowoso tidak lagi menjadi sumber perputaran ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Butuh kerja kolektif, khususnya di Daerah Operasi (Daop IX) Jember. “Ya, ini harus dimulai dari Pemkab Bondowoso,” terangnya, kemarin.
Satu-satunya solusi akan bermuara pada reaktivasi. Menurutnya, keberadaan stasiun tersebut tidak akan selamanya menjadi stasiun. Sebab, sudah sering kali dilakukan peninjauan oleh pusat.
Meski belum diketahui secara pasti, dirinya meyakini, observasi dengan mengukur rel dan beberapa sarana yang lain menjadi tanda stasiun ini kemungkinan besar akan diaktifkan. “Kapan hari itu ada dari dirjen yang melakukan pengukuran di sini,” jelasnya.
Selain itu, pria kelahiran Banyuwangi itu menyampaikan, saat ini status stasiun yang menjadi museum hanya melakukan perawatan. Baik pengarsipan alat-alat maupun perawatan lingkungan sekitar.
Hal serupa terjadi di Jawa Barat. Terdapat stasiun kereta api yang tidak beroperasi selama puluhan tahun. Sementara, tanah kawasannya banyak digunakan oleh orang berjualan hingga membangun rumah. Akhirnya, semuanya dibongkar, sesuai dengan surat perjanjian secara administrasi. Sebab, lahan itu sudah dibutuhkan kembali untuk pengoperasian kereta api. “Sama, di sini juga ada surat perjanjiannya,” tegas Adi. (mg5/c2/fid) Editor : Safitri