BACA JUGA : Mahasiswa Polije Gelar Pameran Perangkat Lunak Bidang Kesehatan
Ketua E-Sport Indonesia (ESI) Bondowoso Firman Aditya menuturkan tim Free Fire yang diturunkan sempat bermain sebanyak dua kali. Pada pertandingan perdana harus puas menelan kekalahan. Kemudian, pada pertandingan kedua hasilnya lebih baik dari sebelumnya, karena mereka berhasil masuk dalam tiga besar. "Kualifikasinya masih online, nanti semi final sampai final baru offline di Jember," terangnya.
Oleh sebab itu, pihaknya menaruh harapan besar kepada tim Mobile Legend dan PUBG. Mengingat atlet yang diturunkan, dianggap sudah memiliki pengalaman bertanding dalam beberapa turnamen. Sehingga mereka dinilai dapat diandalkan dalam segi mental kompetisi. "Baik daring atau offline," katanya.
Para atlet dua game tersebut akan bertanding dengan atlet lain secara online. Untuk atlet Bondowoso dilakukan di rumah ketua umum dan ketua harian ESI Bondowoso. Agar komunikasi antar pemain serta konsentrasinya dapat terjaga dengan baik, sehingga mampu menjalani laga dengan baik. "Mau dikumpulkan satu tempat takut terganggu para atlet," imbuhnya.
Dikonfirmasi terpisah, ketua harian ESI Bondowoso, Harry Prasetyo menuturkan, salah satu penyebab kekalahan tim Free Fire dalam babak kualifikasi karena terkendala jaringan internet, serta kondisi pemain yang masih gugup. Oleh sebab itu, untuk dua kelas pertandingan yang tersisa. Pihaknya melakukan uji coba jaringan. Untuk memastikan saat bertanding tidak ada gangguan, sehingga mental pemain tidak terganggu.
Lebih lanjut, Harry juga menuturkan para atlet harus yakin dengan kemampuan mereka masing-masing. Serta tidak terbebani dengan kualitas atau nama besar atlet dari kota/kabupaten lain. Menurut dia, hal tersebut merupakan salah satu modal bagi atlet untuk memenangkan pertandingan. "Fokus pada permainan, komunikasi antar pemain juga harus jalan," pungkasnya. (ham/c1/dwi) Editor : Safitri