BACA JUGA : Pemotor di Jember “Menantang Maut”, Nekat Terobos Pintu Lintasan Kereta
Jembatan gantung tersebut penyangganya dari beton cor. Sementara itu, di lokasi jembatan gantung itu juga ada sumber mata air yang dimanfaatkan masyarakat untuk mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, jembatan gantung tersebut tak hanya menjadi akses masyarakat saat jalan kaki. Namun juga menjadi akses motor. Tetapi, para pengendara harus turun dan mendorong motornya. Menurut Bahrawi, warga setempat, jembatan tersebut tidak bisa dilalui dengan mengendarai motor. Warga Desa Paguan itu mengatakan, semua pengendara harus turun. “Jembatannya itu goyang, dan harus gantian jika dari dua sisi sama-sama ada kendaraan,” terang Bahrawi.
Dia menjelaskan, umur jembatan gantung tersebut cukup tua. “Sebelum bapak saya lahir, yang sekarang usianya 60 tahun, sudah ada jembatan gantung itu. Mungkin usianya sudah 100 tahunan,” ucap Bahrawi. Namun, kata dia, kondisi jembatan gantungnya berbeda. “Dulu masih pakai kawat kecil, tidak seperti sekarang. Juga belum ada penyangga beton cor di kedua ujung jembatan,” paparnya.
Pembangunan jembatan gantung tersebut swadaya masyarakat setempat. Pria 30 tahun itu menuturkan, jembatan penghubung tersebut sering dilakukan perbaikan setiap tiga bulan sekali. Perbaikannya, kata dia, hanya pada bambu yang menjadi alas jembatan gantung tersebut. “Kakak sepupu saya pernah terjatuh dan patah tulang,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK) Bondowoso Ansori menyampaikan, jembatan gantung penghubung Desa Paguan dengan Desa Traktakan tersebut telah berkali-kali dilakukan pengajuan. “Sebenarnya kurang layak untuk jembatan itu. Sudah kami usulkan ke kementerian, waktu itu,” terangnya.
Pada tahun 2021, dirinya menambahkan, usulan kembali dilakukan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sementara, pada tahun 2022, Ansori menjelaskan, juga dilakukan pengajuan kembali. Tak hanya jembatan penghubung Desa Paguan dan Traktakan. Jembatan lainnya juga diusulkan. Dirinya menambahkan bahwa pembangunan tersebut tak hanya melihat dari panjangnya jembatan saja, namun lebar dari jembatan tersebut juga akan dipikirkan. Sementara, APBD Bondowoso terbilang kecil. Terlebih, saat ini anggaran lebih banyak dipakai untuk refocusing Covid-19. (mg5/c2/dwi) Editor : Safitri